Skip to main content

Inikah Neraka ?

Gimana yah caranya jelasin cerita satu ini ?
Jadi gini, ini cerita gak ada unsur hantu atau urban legend atau mitos sama sekali. Tapi bisa jadi ini adalah cerita paling horror yang pernah saya temui. Gak seram, tapi.... mengenaskan...

===============================================================

Kakekku seorang penjudi akut. Selama hidupnya jarang sekali dia berlaku jujur. Karenanya, pekerjaan dia sehari - hari hanyalah berkeliling mencari tempat judi dari satu tempat ke tempat lain. Terkadang dia menang, namun dia lebih sering kalah.

Keluarga kami tentu saja keluarga miskin yang bahkan untuk makan saja tidak cukup. Nenekku bekerja disawah untuk mencukupi kehidupan anak - anaknya.

Kakekku adalah seorang yang brutal dan kejam. Orang - orang mengenal dia sebagai "Si Ular". Karena dia memang tidak bisa dipercaya. Selain itu karena dia memang memiliki tato ular di punggungnya.

Berjudi adalah kehidupan kakek ku dan dia hanya punya sedikit waktu untuk keluarganya. Satu - satunya saat anaknya bisa bertemu dengan kakek hanyalah ketika kakek pulang kerumah setelah seharian berjudi. Tiap kali kakek sudah terlihat dari jalanan di dekat rumah, ayahku dan adik perempuannya pasti menyambutnya.

Bila kakek berhasil menang, dia pulang dengan pakaian yang bagus dan membawa tas besar di punggungnya. Biasanya berisi barang - barang untuk keluarganya. Ada makanan, pakaian baru dan terkadang pula mainan untuk anak - anaknya, bahkan dia selalu memperlihatkan uang yang dia dapat kepada keluarganya.

Walaupun begitu, dia lebih sering pulang dengan kehilangan seluruh uang yang dia miliki. Di satu kesempatan, dia tengah terhuyung - huyung di jalan dengan pakaian compang - camping, kelihatan seperti mayat hidup yang menyedihkan, dan baunya seperti seorang gelandangan.

Tiap kali dia pulang setelah kalah berjudi, dia selalu marah - marah sambil mabuk dan memukuli nenek di hadapan anak - anaknya. Keluarganya begitu takut padanya.

Dalam keadaan tidak sadar dia selalu mencaci maki anak dan istrinya. Berkali - kali dia selalu mencaci ayahku dan adik perempuannya berharap agar mereka tidak pernah dilahirkan. Seiring waktu berlalu, kelakuan kakek semakin keterlaluan. Ayah dan adiknya mulai sangat membencinya.

Di satu malam bersalju yang gelap, ketika hujan turun diluar, kakek  dicegat oleh segerombolan penjudi lainnya. Mereka menuduh kakek telah curang dan mengajaknya berkelahi. Kakek menghunus pisaunya dan pria yang lainnya menghunus pedang.

Itu adalah pertempuran satu lawan tiga dan walalupun kakek adalah orang yang kuat, dia tidak bisa bertahan. Dia berhasil melukai dua orang pria, namun pria yang ketiga berhasil membacok bahunya hingga terbelah sampai perut. 

Ketika kakek ku tergeletak di salju, nyawanya perlahan melenyap, mereka yang berkelahi melawannya berkata dengan penuh ketidak percayaan.
"Walau kita udah bacok dia, orang itu masih bisa tertawa." Katanya.
Mereka berdiri disana hingga kakek menghembuskan nafas terakhir, darah segarnya mengalir di antara putih nya salju.

Musim semi berikutnya nenek meninggal karena demam yang dia derita, ayah dan adiknya menjadi yatim piatu sekarang. Mereka bekerja di dua tempat yang berbeda.

Ayahku bekerja pada sebuah keluarga kaya yang tinggal di rumah mewah. Anak dari keluarga itu gila. Dia menjadi gila karena belajar terlalu keras, keluarga itu mengkerangkengnya di loteng. Pekerjaan ayahku adalah menyediakan makanan untuk bocah gila itu. 

Bocah gila itu takut dengan orang tuanya. Kalau makanan yang dia makan tidak habis, orang tuanya akan naik ke loteng dan membentaknya. Jadi, dia selalu memaksa ayahku untuk memakan sisa makanannya.

Bocah gila itu hanya memainkan makanannya hingga penuh dengan ludah dan ingus dan menyerahkan makanan itu kepada ayah. Menjijikkan memang, namun jika ayah menolak, bocah gila itu mengancam ayah dengan palu.

Satu hari bocah gila itu sakit dan memuntahkan semua makanan yang dia telan. Muntahan segar menggenang di lantai loteng. Dia takut di bentak oleh orang tuanya, maka dia menyuruh ayah untuk memakan muntahannya. Tentu saja, ayah menolak.

Bocah gila itu berang, dia meloncat ke tubuh ayah dan memukuli ayah dengan kepalan tangannya. Ayah mencoba menyelamatkan diri, namun bocah gila itu menahannya dan dia tidak bisa bergerak. Sesaat kemudian, ayah melihat palu disebelahnya. Ketika ada kesempatan, dia mengambil palu itu.

Akhirnya, ayah memukul kepala bocah gila itu dengan palu hingga tewas.

Kemudian pada akhirnya, ketika orang tua bocah gila itu datang keatas dan menemukan anaknya sudah tewas, mereka tidak menanyakan apapun kepada ayah. Kecelakaan itu ditutup - tutupi oleh mereka. Ayah mengetahui bahwa anak gila itu hanya dianggap sebagai pembuat malu keluarga kaya itu, sebenarnya mereka malah senang kalau anak gila itu tidak ada.

Setelah kejadian tersebut, ayah mengunjungi adik perempuannya yang bekerja di pabrik, namun tepat saat dia tiba disana, semuanya terlambat. Perusahaan tempat adiknya bekerja membuat adiknya bekerja terlalu keras dan mengalami pneumonia akhirnya meninggal. Tubuhnya mengalami stress dan kelelahan yang berlebihan.

Setelah kehilangan adiknya, ayah menjadi pencuri dan gelandangan. Dia mempertaruhkan semua uang yang telah dia curi di meja judi. Di punggungnya, dia memiliki tato bergambar kelelawar besar.

Tak lama kemudian, dia menyadari bahwa dia telah mengikuti jejak dari kakek ku. Dia tahu jika dia melanjutkan jalan kehidupan yang sama, dia akan mati sia - sia, sama seperti ayahnya.

Maka dari itu, dia pindah ke negara lain, mengadu nasib dan mengubah kehidupannya. Di tempat yang baru dia bekerja disebuah peternakan babi. Dia tidak digaji terlalu besar disana, namun itu adalah pekerjaan yang lebih baik, Dia bertemu dengan seorang gadis yang akhirnya dia nikahi dan memiliki seorang anak.

Ketika perang meletus, dia dipaksa untuk ikut militer di negara yang bukan tempat kelahirannya. Dia membunuh begitu banyak orang pada perang yang mengerikan itu, sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Selang beberapa pertempuran, dia berpikir bahwa semakin banyak tentara musuh yang dia bunuh, akan semakin cepat perang selesa dan dia bisa kembali bertemu dengan anak dan istrinya.

Ketika perang telah selesai, dia pulang ke rumah dan menemukan bayinya terbunuh karena serangan bom dan istrinya yang dia tidak habis pikir malah meninggalkan anaknya. Dia sudah ditakdirkan untuk meninggalkan istrinya dan meninggalkan negara itu.

Tiap kali ayah membicarakan masa kehidupannya yang itu, ayah selalu mengatakan hal yang sama...
"Dunia ini adalah neraka".
Akhirnya, perjalanan ayah membawanya kembali ke kampung halamannya. Di sana, dia bertemu dengan ibuku dan akhirnya mereka menikah. Tidak lama kemudian, mereka memiliki dua orang anak, kakakku dan aku.

Ketika aku masih kecil, aku masih ingat bagaimana ayah duduk di meja dapur, minum sendirian hingga mabuk tiap malam. Wajahnya selalu terlihat suram sekaligus menyeramkan. Dia telah mengalami saat - saat yang sangat sulit dalam hidupnya.

Ayah membenci sikapku yang dianggapnya terlalu lemah. Tiap kali dia mabuk, dia jadi beringas. Sesekali dia memukuliku hingga bagian tubuhku lebam membiru dan menghitam. Aku takut kalau sampai membunuhku.

Satu hari, ibu menyuruhku pergi ke tempat penjagalan hewan untuk membawakan makan siang ayah. Ketika aku sampai disana, aku melihat ayahku sedang membunuh seekor babi di bawah terik matahari. Dia bertelanjang dada dan memukuli babi itu hingga tewas dengan tongkat baseball. Pemandangan yang sangat mengerikan.

Babi itu menguik dan menggeram ketika mereka dibunuhi. Aku melihat ayahku yang sedang bekerja dan melihat tato kelelewar di punggungnya. Terlihat mata kelelawar itu berkilat merah di punggung ayah yang berkeringat, Wajah dan pakaian ayah berlumuran darah terlihat bagaikan sesuatu yang muncul dari dalam neraka.

Pada malam bersalju yang gelap, salju turun di luar, ayahku belum kembali dari tempat kerjanya. Ibu menyuruhku untuk mencarinya. Aku menemukan ayah mengambang di sungai. Badannya yang membengkak mengambang di air sungai yang dingin diantara sampah - sampah dan mayat binatang. Dia terlihat seperti salah satu babi gendut yang dia bunuh di tempat penjagalan.

Kakakku adalah seorang alkoholik juga. Dia duduk di meja dapur, minum sendirian  hingga mabuk, persis seperti ayah. Dia terlahir menjadi seorang yang kejam dan brutal. Tiap kali dia mabuk, dia akan mengajak seseorang yang lewat didepannya untuk berkelahi.

Dia juga memiliki tato di punggungnya. Tatonya adalah gambar naga yang besar.

Dia selalu memukuli orang - orang tanpa ampun hingga orang itu kehilangan kesadaran. Tiap orang di kota takut dengannya secara tidak langsung dia telah menemukan banyak musuh. Malam berganti, kebrutalannya membuatnya bertarung seperti seorang gila.

Di satu kesempatan, aku bersama kakakku di bar setempat ketika terjadi perkelahian. Ketika kakakku memukul seseorang yang tidak bersalah, dia mengingatkanku dengan ayah.

Satu malam bersalju, salju turun di luar, dia ditemukan dipinggir sungai, berbaring di salju. Salah satu musuh berhasil menemukannya dan dia dipukuli hingga nyaris tewas. Tulang tengkoraknya retak hingga terbuka, dia terbaring di genangan darah, sama seperti kakek kami beberapa tahun yang lalu. Nyawanya berada di ujung tanduk, darah segar mengalir di antara salju putih.

Ambulans membawanya ke rumah sakit dimana dokter melakukan operasi untuk menyelamatkan nyawanya. Mereka harus membuka tulang tengkoraknya dan melakukan operasi darurat pada otaknya.

Ketika aku pergi menjenguknya di rumah sakit, dia nyaris tidak dapat dikenali lagi. Kepalanya di perban, wajahnya robek dan ada selang yang masuk kedalam hidungnya. Dia benar - benar kacau.

Dokter bilang dia mengalami gegar otak serius. Dia tidak mungkin lagi hidup normal. Dia hanya bisa menghabiskan sisa hari - harinya di rumah sakit atau di rumah sakit jiwa.

Ketika aku duduk disebelah tempat tidurnya, aku menatapnya ketika dia sedang tidur. Aku ingat ketika kami masih kecil. Ketika ayah memukuliku, kakak selalu datang dan mencoba menyelamatkanku  yang akhirnya malah membuatnya dipukuli oleh ayah. Aku terlalu lemah. Yang hanya aku bisa melihat kakak dipukuli oleh ayah.

Kakak baik sekali padaku ketika aku masih kecil. Bahkan ketika anak - anak lain mengangguku, dia akan datang dan menolongku. Membuatnya dipukuli juga oleh anak - anak lain. Kini aku tidak habis pikir mengapa bisa dia berubah seperti ini. Apa yang membuat dia berubah menjadi monster seperti ini ? Apa yang membuat seorang anak yang baik dan perhatian menjadi seorang yang kejam dan brutal ?

Tiba - tiba, kakak ku sadar dari koma. Matanya perlahan terbuka dan dia menatap kearahku. Matanya terlihat sayu. Aku tidak tahu apakah dia masih mengenalku.

"Dimana aku ?" dia bertanya dengan lemah. "Inikah neraka ?"

Air mata mengalir di pipiku. Aku meraih tangannya dengan lembut.

Lalu kujawab "Iya,"
"Inilah neraka..."
=======================================================================

Sekarang readers, yakin readers udah mengalami penderitaan yang mendalam ?

Comments

  1. jadi nya seru nih, ijin gelar tiker deh sampai rumah baca lagi hehehe

    ReplyDelete
  2. You're failed to convince me.

    ReplyDelete

Post a Comment

Share your fear please.... :)

Popular posts from this blog

Tragedi Himuro Mansion

Siapa yang udah pernah main game Fatal Frame ? Saya belom, hehe. Mau maenin tapi PS 2 nya rusak duluan. Saya tahu Fatal Frame dari teman saya yang sudah terlebih dahulu bermain Fatal Frame. Gamenya lumayan horror, eh bukan lumayan lagi deh. Horror banget. Ya iyalah gimana gak ? Di game itu kita berperan jadi sepasang gadis yang tersesat di sebuah mansion yang isinya hantu - hantu semua. Satu - satunya cara untuk menghadapi hantu - hantu itu adalah dengan memotret mereka dengan sebuah alat bernama camera obscura. Iya, dipotret hantunya. Kebayangkan kalo hantunyaFatal Frame tiba - tiba muncul di depan wajah terus langsung kita harus buru - buru potret. BAKEKOK !! Ini kok jadi review game ? -_-" Maaf keasyikan ngebahas Fatal Frame. Langsung ke topik utama. Ada alasan mengapa tadi saya membahas game Fatal Frame sedikit di awal. Latar tempat game Fatal Frame adalah sebuah mansion (rumah singgah yang besar dan luas) bernama Himuro Mansion. Dan coba tebak ? ternyata Himuro Mansion benar …

Linimasa (Sisi kelam sebuah kicauan)

Selesai Abatoar langsung saya lahap Linimasa di hari itu juga. Rasanya agak telat kalau saya me-review Linimasa sekarang - sekarang ini, mengingat tanggal terbitnya sudah lewat berbulan - bulan lalu. Well... better late than never. Kita bahas sedikit tentang cerita dalam Linimasa, tanpa spoiler tentunya.

Judul buku : Linimasa (Sisi kelam sebuah kicauan) Penulis : @kisahhorror Penerbit : Mediakita Tanggal terbit : November - 2013 Jumlah halaman : 340


Linimasa menceritakan tentang konflik dan intrik anak - anak remaja tanggung persis di sinetron - sinetron yang sering diputar di stasiun televisi kesayangan kita. Adalah Tatiana, gadis berpenampilan sederhana namun selalu meninggalkan kesan baik pada teman - temannya sebagai siswi yang rajin, pintar, suka menolong dan ramah kepada semua orang. Sifat baik Tatiana bukan berarti berimbas baik pada semua orang, tersebutlah lima orang remaja lain yang merasa dipecundangi oleh kebaikan dan prestasi - prestasi Tatiana. Lima orang remaja itu adalah Fra…

Gak Baca Komik Horor, Sekalinya Baca Jadi Lama Gak Posting Lagi

Lama gak update sodara - sodara sekalian. Kali ini saya gak mau cerita sesuatu dulu. Mau share sedikit aja.  Jadi gini, ceritanya saya lagi iseng googling. Dan nemu komik horror disalah satu web penyedia komik. Jelas dong saya penasaran, saya baca dikit dan voila ! sukses bikin saya gak bisa tidur, gak berani di kamar mandi lama - lama. Dan gak berani buat posting cerita horor buat sementara. (Selain sempitnya waktu, efek dari komik ini yang membuat saya gak posting - posting lagi).

"Emang serem banget ya ?"

Gak banget - banget sih, tapi karena ilustrasinya yang "brengsek" dan lumayan buat bahan mental disturbing jadi bakal bikin anda berkali - kali ngeliat ke belakang pas lagi baca ceritanya (if you know what i mean...^_^).

Nih saya kasih linknya aja. Saya gak mau naro gambar - apa dipostingan kali ini.

YAMI NO KOE
Nemu profil penulisnya juga dari wikipedia :

Junji Ito was born in the Gifu prefecture of Japan in 1963. He was inspired from a young age by both his ol…