SlideShow

0

Kostum Badut Menakutkan

Hai, selamat akhir tahun ^^. Di tahun berikutnya nanti saya janji deh bakal lebih sering posting kayak dulu lagi. *Janjisamadirisendiri. Makasih banyak buat readers yang udah sempet-sempetin mampir, peluk cium hangat buat yang setia nungguin postingan blog ini (wabilkhusus buat reader cewek) By the way. Siapa yang takut sama badut? 
Ada seorang guru yang membenci murid-muridnya. Dia membenci muridnya dari cara berpakaian, gaya rambutnya yang aneh dan kata-kata kasar yang sering mereka lontarkan. Cara mereka bersandar dibangkunya dan tatapan kosong mereka ketika dia sedang menjelaskan soal matematika yang menurutnya melelahkan. Murid-muridnya sangat muak dan tidak mau berada disekitarnya jika tidak terlalu penting.

Di sekolah, dia terkenal sebagai seorang yang keras dan menyebalkan. Bila salah seorang muridnya melakukan kesalahan yang bahkan sepele, dia tidak segan-segan untuk memberikan hukuman. Remaja perempuan dan laki-laki yang berada disekitarnya selalu memandang rendah namun dia sangat senang untuk membuat anak-anak remaja hidup dalam penyesalan.

Satu malam, ketika dia sedang bersantai di rumahnya, mendengarkan musik klasik, guru itu tanpa sengaja melihat ke arah luar jendela dan melihat sesuatu. Di jendela gedung sebelah sesosok badut yang sedang menari-nari dan menatap kearahnya. Dengan terkejut dia segera menutup jendela dengan gorden dan mencoba melupakan apa yang dia lihat barusan.

Keesokan harinya di sekolah, murid-murid mengganggunya lebih parah. Ketika dia berbalik, mereka mengeluarkan suara-suara aneh untuk mengganggunya. Satu waktu ketika dia duduk di bangkunya, seorang muridnya mengeluarkan bunyi aneh. Dia teramat kesal, dan yang membuatnya makin kesal adalah dia tidak tahu siapa murid yang melakukannya.

Malamnya ketika dia sedang di rumah membaca buku dia melirik keluar jendela. Dia melihat badut lagi. Menari-nari pada jendela yang sama, melambaikan tangan kearahnya seperti orang gila. Ketika badut itu sadar dia diperhatikan, dia membungkukkan badan dan memungut sesuatu. Yang ternyata adalah kapak.

Guru itu tercengang dan lumayan ngeri, badut itu mulai mengayun-ayunkan kapaknya seperti pasien rumah sakit jiwa. Dengan lirikan mata dan seringai menakutkan diwajahnya.

Gorden jendela segera ditarik oleh si guru. Dia mempertimbangkan untuk menelepon polisi, namun apa yang akan dia laporkan? badut itu tidak melakukan tindakan ilegal. setidaknya belum. Kemungkinan polisi tidak mempercayainya. Mereka hanya akan menganggap dirinya gila. Akhirnya si guru memutuskan untuk melupakan hal itu saja. 

Keesokan harinya di skekolah, para murid menatap si guru dalam keheningan. Si guru membayangkan apa yang hendak mereka lakukan. Ketika dia duduk dibangkunya, saat itulah dia baru tahu. Mereka meletakkan paku payung di bangkunya. Dia melompat, dan menjerit kesakitan sambil memegangi bagian yang tertusuk. Murid-muridnya terbahak-bahak.

"Baiklah!" si guru berteriak. "Hukuman untuk kalian semua! kalian tidak akan bisa tertawa lagi karena sore nanti akan pulang telat ke rumah!"

Malamnya, si guru di rumah, menonton film dokumenter di TV. Dan tanpa sengaja lagi dia melihat keluar jendela dan melihat beberapa orang remaja menyeberang jalan. Dia mengenali remaja itu sebagai murid-muridnya di kelas dan kelihatannya mereka berencana untuk membuat grafiti di tembok sebelah rumahnya. Tidak diragukan lagi kalau mereka akan menggambar tentang si guru itu. Tentu saja si guru marah.

Dia mengambil telepon untuk menelepon polisi. Saat itu pula, dia melihat seseorang bersembunyi disudut dinding. Sosok itu adalah badut yang memegang kapak sambil cekikikan. Badut itu hanya tinggal beberapa meter saja dari remaja-remaja yang tidak bersalah tadi.

Si guru ngeri luar biasa. Dia tidak tau apa yang akan dilakukan oleh badut itu, namun pastinya adalah sesuatu yang sangat mengerikan. Si guru harus memperingatkan remaja itu, Dia segera berlari keluar apartemennya, menerjang tangga dan berlari ke jalanan.

"Awas! Awas" si guru berteriak sambil menangis, namun dia terlambat.

Dia tidak bisa melakukan apapun ketika badut itu menyerang muridnya sendiri. Dia mendengar jeritan mengerikan ketika si badut mengayunkan kapak kearah mereka. Remaja-remaja itu mencoba berlari namun tidak bisa. Mereka terpojok dan si badut mengayunkan kapaknya kembali, menebas dan memotong tanpa ampun.

Benar-benar sebuah pembantaian. Darah menggenang disekitar situ, tangan serta jemari murid-muridnya berceceran di trotoar. Si guru menutup matanya.

Seketika itu pula terdengar sirene dan beberapa mobil polisi berhenti tepat didepannya. Dalam kegelapan, lampu mobil polisi mengarah kepadanya. Dia melihat dirinya sendiri dan menyadari bahwa dia tengah mengenakan pakaian badut. Dikakinya terpasang sepatu badut yang besar.

"Letakkan! Letakkan!" dia mendengar polisi berteriak.

Kapak yang berdarah-darah berada digenggamannya.