SlideShow

0

Cincin Di Jarinya

Suatu hari, Florence Wyndham seketika jatuh sakit hingga koma. Meskipun semua dokter sudah mencoba membantunya, pada akhirnya dia pun meninggal. Suaminya merasa kehilangan. Florence dimakamkan di pemakaman kecil sekitar beberapa mil dari rumah.

Di tengah malam, pencuri makam merangsek masuk ke area pemakaman. Pencuri itu membawa lentera dan sekop. Dia mulai menggali makam Florence. Ketika sekopnya terasa menyentuh kayu peti mati, dia menggali kuburan itu dengan tangan dan membuka tutup peti mati Florence.

Sambil memegang lentera, dia melihat jenazah di dalam peti mati dan melihat dua cincin emas dari jenazah itu. Dua cincin yang melingkari tangan yang sudah dingin. Pencuri itu mulai mencoba merampas cincin itu namun cincin tersangkut dan sangat sulit untuk dilepaskan.



Dia memutuskan untuk memotong jari jenazah itu. Setelah mengambil pisau dari sakunya, dia memotong cincin yang berada di telunjuk terlebih dahulu. Darah pun mengalir perlahan-lahan.

Dia mendengar suara gemerisik. Tanpa sebab apapun jenazah itu mulai berguncang-guncang.
Tiba-tiba mayat itu bangkit dari kematiannya.Si pencuri terkejut setengah mati, dia melompat mundur dan tanpa sengaja menjatuhkan lenteranya. Dia sepenuhnya berada di dalam kegelapan, berada di dalam kuburan yang dingin. Pada saat itu juga, dia merasakan sepuluh jari-jemari yang dingin menyentuh lehernya.

Pencuri itu menjerit sejadi-jadinya dan dengan bersusah payah merangkak keluar dari liang kubur secepat yang dia bisa. Dengan kepanikan dia berlari tanpa sedikitpun melihat kearah belakang. Dibutakan dengan ketakutan dan kebingungan, dia sama sekali tidak tahu kemana dia berlari. Dia hanya terus berlari menembus kegelapan malam.

Dalam ketakutannya, si pencuri tidak menyadari kalau dia berlari kearah yang salah. Dia berlari kearah pinggir tebing dan jatuh kebebatuan yang berada dibawahnya. Dia terjatuh dan pisau yang berada di dalam kantung menusuk dadanya hingga menembus jantung. Hingga akhirnya pencuri itu tewas berdarah-darah dibawah jurang.
0

Toko Daging

Zachary Gristle adalah satu-satunya tukang daging di kota. Dia memiliki sebuah toko yang menjual daging untuk para pelanggannya. Setiap pagi, ketika Tn. Gristle membuka tokonya, akan selalu ada antrian panjang para pelanggannya yang menunggu diluar. Mereka ingin mendapatkan potongan daging dengan kualitas yang bagus.

Selama perang dunia kedua, bahan pangan sangat sulit ditemukan dan persediaan harus dijatah. Pemerintah memberikan warga kupon merah untuk digunakan apabila mereka ingin membeli daging.

Ketika perang semakin menjadi, daging menjadi semakin mahal. Pelanggannya tidak senang dan dia kehilangan uang.

Pada suatu petang, Tn. Gristle sedang makan malam bersama anak dan istrinya. Seketika dia menemukan solusi untuk masalahnya.

Dia mulai membeli daging kuda murah dari peternak pasar gelap. Kemudian, dia memotong daging kuda itu lalu menjualnya kepada para pelanggan. Daging itu dijualnya sebagai daging sapi berkualitas.


Tn. Gristle mendapatkan banyak uang, namun tidak lama kemudian persediaan daging kuda juga semakin menipis. Kalau dia ingin terus mendapatkan keuntungan, dia harus mencari lagi jenis daging yang lain. Daging lama, daging busuk, daging tercemar, daging kucing, daging anjing dan daging tikus. Daging apapun. Dia mencuci daging-daging itu dan menggunakan proses rahasia untuk menghilangkan aroma busuknya. Kemudian, dia memotong bagian yang agak busuk dan menjualnya kepada para pembeli sebagai daging berkualitas.

Tidak ada seorang pun yang mencurigai apa yang Tn. Gristle lakukan. Bahkan ketika para warga mulai jatuh sakit. 

Suatu malam, seorang peternak datang kerumahnya dan memberitahukan daging busuk yang siap diangkut. Tn. Gristle sedang tidak ada di rumah dan istrinya lah yang membukakan pintu.

Istrinya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan benar-benar terkejut atas apa yang dikerjakan suaminya. Ketika malam tiba, dia memperingatkan Tn. Gristle untuk menghentikan pekerjaannya.

Apapun yang dikatakan istrinya, Tn. Gristle tidak terpengaruh sedikitpun. Dia dibutakan oleh ketamakan dan yang dia pikirkan hanyalah bagaimana dia bisa mendapatkan yang dengan sebanyak mungkin.

Kemudian, satu per satu orang di kota meninggal. Pertama-tama Nn. Abercrobmbie, lalu Tn. Grundy. Ketika Nn. Marmite meninggal dengan daging steak yang tinggal setengah dipiringnya, polisi mulai curiga.

Tn. Gristle menutup tokonya lebih awal dan segera pulang ke rumah. Dia memberitahu istrinya untuk berkemas karena mereka harus segera pergi dari kota.

Saat itu juga anaknya terhuyung-huyung sambil mencengkram perutnya. Dia baru saja pulang dari rumah temannya dan memakan sepotong daging busuk.

Anak itu roboh dan meninggal tepat di depan orang tuanya. Ny, Gristle putus asa, dia kehilangan kewarasannya. Dia mengambil sebilah pisau dapur dan memojokkan suaminya.

Keesokan paginya, ketika para pelanggan tiba di toko daging, mereka menemukan Ny. Gristle berdiri di belakang meja toko. Dengan tatapan mata yang sayu dia mengoceh sendirian. Apron yang dia kenakan dipenuhi bercak darah, dan rak tempat biasa daging diletakkan telah dipenuhi dengan daging segar.
0

Ruangan

Suatu malam, Aku mengalami mimpi yang sangat aneh. Aku bemimpi berada di sebuah ruangan dengan dinding yang semuanya berwarna putih. Kelihatannya seperti ruangan steril di rumah sakit, namun tidak ada perabotan sama sekali, hanya ada kasur, cermin, dan wastafel. Di ruangan itu juga tidak ada pintu, yang ada hanyalah sebuah jendela. Ketika Aku membuka jendela itu, Aku menyadari bahwa ruangan itu berada di sebuah gedung pencakar langit dan aku berada di lantai yang sangat tinggi, permukaan tanah di bawah sana terlihat samar-samar.

Sejauh yang Aku ingat, Aku menghabiskan hari-hariku di dalam ruangan itu dan Aku sama sekali tidak tahu apapun tentang ruangan itu. Setiap hari Aku melakukan kegiatan yang sama. Bangun dari tidur, berkeliling ruangan itu dan menatapi dinding. Setiap hari terus saja begitu.

Kemudian suatu hari, Aku merasakan sesuatu yang ganjil. Ada hal yang berbeda. Aku menyadari sebuah retak kecil di dinding. Karena telah bertahun-tahun berada di ruangan itu, Aku ingat sekali setiap inci dari dinding itu. Aku tahu retakan itu belum pernah ada sebelumnya. Aku jadi merasa gelisah, namun tidak ada yang bisa aku lakukan.

Kemudian beberapa minggu kemudian Aku menyadari perubahan yang lebih besar lagi. Seketika langit-langit di ruangan itu warnanya mulai memudar. Sekali lagi, hal ini membuatku takut, namun apa yang bisa kulakukan? Kemudian segalanya terus berubah dan setiap kali perubahan itu semakin besar dan semakin sering. Setiap kali hal itu terjadi, Aku yakin bahwa ada sesuatu di luar ruangan itu, Ingin menggangguku dan mencoba untuk masuk. Karena hal itu perlahan tapi pasti aku jadi semakin ingat saat-saat sebelum aku berada di ruangan itu

Kemudian satu hari lagi aku terbangun dan melihat semua bagian ruangan itu telah berubah sama sekali. Secarik kertas yang dilipat tergeletak di lantai. Dengan hati-hati, aku memungutnya. Ada sebuah tulisan tangan yang tertera di satu sisinya. Tulisan itu berisi catatan dari seseorang yang mengaku sebagai kakak perempuanku. Dia menuliskan bahwa Aku terjebak di ruangan itu dan satu-satunya cara agar aku bisa bebas adalah bunuh diri.

Aku semakin tidak mengerti apa yang harus kulakukan. Aku hanya tahu tentang tuangan itu. Aku sangat takut dan mencoba mengabaikan semuanya dan kembali melakukan kegiatanku yang membosankan. Karena setidaknya dengan begitu aku akan aman. Bagaimana bisa aku mempercayai catatan dari seseorang yang menganggapku saudara yang bahkan aku saja tidak ingat?

Aku menghabiskan beberapa hari berikutnya dengan memikirkan apa yang harus kulakukan. Pasti ada sesuatu yang "lebih" diuar sana. Akhirnya, Aku sudah memutuskan. Aku membuka jendela, melihat keluar. Kemudian, Aku melompat dan jatuh pada kematianku.

Begitulah caranya aku bangun dari mimpiku.

Semenjak saat itu, sepanjang kehidupanku selanjutnya, Aku tidak bisa melepaskan perasaan bahwa sesungguhnya kehidupan ini hanyalah sebuah ilusi dan kenyataan yang sesungguhnya adalah, Aku masih terjebak dan mondar-mandir di dalam ruangan putih itu.
0

Kabur

Ayah tiriku selalu membenciku. Ketika Ibu menikah dengannya dan dia tinggal di rumah kami, hidupku jadi terasa seperti di neraka. Apapun yang aku lakukan selalu salah dimatanya dan dia selalu membentakku. 

Pelan tapi pasti, semua kekacauan di rumah mulai mempengaruhi sekolahku. Sulit sekali untuk belajar dan nilaiku semakin menurun. Ketika makan malam bersama aku sangat gugup hingga sulit sekali rasanya untuk makan. Pelan-pelan aku menarik diriku dari teman-teman dan tidak main lagi bersama mereka. 

Semuanya semakin menjadi-jadi. Aku menjadi samsak tinju ayah angkatku. Dia mulai memukuliku tanpa ampun. Dia adalah orang yang besar dan kuat sementara aku terlalu kecil dan lemah untuk melawannya. Setiap pukulan dan tendangan yang dia tujukan padaku menyakitiku secara fisik dan mental. Tidak lama setelah itu Aku diagnosa mengalami depresi.

Dari semua kejadian yang telah terjadi, Ibuku hanya diam saja dan tidak membelaku sama sekali. Dia lebih memilih suami barunya ketimbang diriku. Hal itu sangat menyakitkan lebih dari apapun. Yang hanya bisa kulakukan adalah berharap dan berdoa agar suatu saat aku bisa lari dari rumah.

Suatu hari, ketika aku tidak mampu lagi menahan semuanya aku mencoba lari dari rumah. Aku berhasil kabur sejauh mungkin dari kota tempatku tinggal, namun polisi menemukanku dan membawaku kembali ke rumah. Ketika Aku dan polisi sampai di rumahku, aku melihat ayah angkatku berdiri di depan pintu rumah menungguku. Amarah terlihat jelas di wajahnya.

Sesaat setelah polisi pergi, dia berpaling padaku dan berkata, 

"Kamu pikir kamu bisa kabur?"

Malam itu, dia memukuliku lebih parah dari biasanya. Aku menangis dalam tidurku. Hari-hari berikutnya, setiap kali dia pulang kerja, Aku berusaha untuk menghindarinya namun tidak ada gunanya. Dia memukuliku tanpa ampun. Aku tidak pernah mengerti kenapa seseorang bisa begitu kejam. Kelihatannya aku hanyalah sebuah pelampiasan untuk bersenang-senang baginya. Tiap kali dia memukuliku, Aku bisa melihat bagaimana dia menikmatinya. Tubuhku dipenuhi dengan memar dan rasanya sakit sekali untuk bernafas. 

Secara tidak sengaja, dia sudah bertindak terlalu jauh. Pada suatu malam, dia memukuliku hingga aku tidak bisa bergerak lagi. Aku hanya mampu berbaring di lantai kamarku, memandangi langit-langit kamar.

Aku tidak tahu kalau saat itu aku mengalami pendarahan di dalam tubuhku. Ibuku memohon kepada ayah tiriku untuk membawaku ke rumah sakit, namun dia mengabaikan Ibuku. Ayah tiriku pikir aku berpura-pura.

Sepanjang malam, Aku hanya berbaring dilantai kamarku, mengerang pelan dalam kesakitan dan perlahan-lahan tidak sadarkan diri. Esok paginya, Ibuku memeriksa keadaanku, namun Aku sudah meninggal,
0

Meng-Google Dirimu

Jangan pernah meng-Google dirimu. Mengapa? karena bisa jadi kau tidak akan suka dengan apa yang kau temukan.

Suatu hari aku merasa bosan dan mengetikkan namaku sendiri di mesin pencarian Google. Aku memiliki nama yang tidak terlalu pasaran, jadi aku yakin hasil pencariannya tidak akan terlalu banyak. Aku kaget sekali ketika ternyata aku menemukan sebuah website yang memiliki domain bertuliskan nama lengkapku.

www,(namaku).com

Ketika aku klik link tersebut, muncullah sebuah papan pesan. Aku memperhatikan profil dari website tersebut dan mengetahui bahwa ternyata orang yang memiliki website itu seusia denganku dan memiliki hobi dan ketertarikan yang sama. Tidak ada posting apapun dalam papan pesan tersebut, namun karena penasaran, aku menyimpan link itu.

Sudah sebulan berlalu, ketika aku melihat kembali website tersebut. Kali ini website tersebut memiliki beberapa konten. Ada beberapa postingan catatan harian, beberapa hal acak seperti "Hari ini cerah banget" atau "Lagi bete di tempat kerja". Hal-hal lumrah seperti itu.

Seiring waktu, Aku mulai menyadari beberapa kebetulan. Orang yang memiliki website itu tinggal di kota yang sama denganku. Sangat aneh ketika kamu menyadari ada dua orang yang namanya tidak umum tinggal di satu kora yang sama pada waktu yang sama.

Kemudian aku menyadari isi catatan harian di website itu sama persis dengan kejadian dalam hidupku.

Suatu hari aku pergi menonton pertandingan kasti dan ketika malam harinya aku memeriksa website itu, Aku menemukan pemilik website itu pergi menonton pertandingan yang sama dengan yang aku tonton siangnya. 

Kebetulan-kebetulan dalam website itu semakin menjadi-jadi. Detail biografi pemilik blog itu terlalu mirip dengan diriku.

Misalnya, pemilik website itu menuliskan dia memelihara seekor anjing dan nama anjing itu persis degan anjing yang pernah kumiliki ketika aku masih kecil. Pemilik website itu memposting gambar mobil miliknya yang ternyata model mobil miliknya persis dengan mobil yang pernah aku miliki ketika aku masih kuliah. Pemilik website itu menuliskan kegiatannya makan di restoran yang ternyata restoran-restoran yang dia tulis persis dengan restoran yang pernah aku kunjungi ketika aku pulang kerja.

Suatu hari lagi, ketika aku melihat papan pesan, pemilik website itu menulis pesan yang berbunyi "Selamat ulang tahun!"

Hari itu adalah hari ulang tahunku.

Aku memutuskan untuk menuliskan sesuatu di papan pesan itu, untuk memenuhi rasa penasaran saja. Aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun padanya dan memberitahunya bahwa dia memiliki nama yang sama denganku.

Namun ketika aku ingin mulai menuliskan sesuatu, Aku menyadari bahwa tidak tempat untuk mengetikkan pesan di website itu. Itu bukanlah papan untuk menuliskan pesan, itu adalah laman statis.

"Aneh banget."

Dapat disimpulkan, seseorang yang memiliki website tersebut sengaja membuat website itu terlihat seperti website interaktif... sekilas terlihat konten di dalam website itu diisi oleh orang lain yang mengunjungi website itu... namun sebenarnya, isi website itu ternyata hanya dibuat oleh si pemilik website itu saja.

"Untuk apa seseorang melakukan hal seperti ini?"

Aku memutuskan untuk mengirim e-mail kepada pemilik website tersebut.

Tulisannya berbunyi : "Hai. Percaya nggak, kita punya nama yang sama loh. Senang bisa kenalan"

Hanya sebuah e-mail yang bersahabat.

Hari berikutnya, ketika aku ingin melihat website itu lagi, Aku menemukan bahwa website itu sudah hilang. Sepertinya sengaja dihapus.

Kemudian aku memeriksa e-mail ku dan ternyata seseorang mengirimkanku pesan yang membuatku merinding dan menyesal setengah mati.

Pesan itu bertuliskan :
"AKU MENEMUKANMU!"