Skip to main content

Posts

Bohong

Ada seorang gadis kecil bernama Anggi. Ketika dia sedang bermain di kamarnya dia mendengar Ibu memanggil dari dapur. Anggi bergegas keluar dari kamarnya.

"Anggi, kesini sebentar. Ibu mau tanya sama kamu," kata Ibu.
"Kenapa, Bu?" Anggi bertanya.
"Kamu tahu siapa yang makan kue untuk tamu?"
"Emm... enggak. Aku gak tahu." jawab Anggi.
"Apa kamu yang makan?" Ibu bertanya lagi.
"Enggak, Bu. Bukan aku yang makan." tangan Anggi gemetar. Dia memang tidak bisa berbohong dihadapan ibunya.
"Anggi, Ibu tahu kamu bohong. Yang punya kebiasaan berbohong itu pencuri. Polisi selalu bisa menangkap pencuri dan pencuri akan dihukum. Kamu tahu maksud Ibu 'kan?"

Anggi tidak mampu lagi menahan rasa bersalahnya. Dia mulai terisak perlahan.
"Iya, Bu. Aku yang makan kuenya! aku minta maaf."

"Sudah, sudah. Jangan nangis. Ibu marah kalau kamu bohong. Sekarang kamu udah jujur, semuanya udah beres sekarang. Ibu paling gak suka…
Recent posts

Cincin Di Jarinya

Suatu hari, Florence Wyndham seketika jatuh sakit hingga koma. Meskipun semua dokter sudah mencoba membantunya, pada akhirnya dia pun meninggal. Suaminya merasa kehilangan. Florence dimakamkan di pemakaman kecil sekitar beberapa mil dari rumah.

Di tengah malam, pencuri makam merangsek masuk ke area pemakaman. Pencuri itu membawa lentera dan sekop. Dia mulai menggali makam Florence. Ketika sekopnya terasa menyentuh kayu peti mati, dia menggali kuburan itu dengan tangan dan membuka tutup peti mati Florence.
Sambil memegang lentera, dia melihat jenazah di dalam peti mati dan melihat dua cincin emas dari jenazah itu. Dua cincin yang melingkari tangan yang sudah dingin. Pencuri itu mulai mencoba merampas cincin itu namun cincin tersangkut dan sangat sulit untuk dilepaskan.
Dia memutuskan untuk memotong jari jenazah itu. Setelah mengambil pisau dari sakunya, dia memotong cincin yang berada di telunjuk terlebih dahulu. Darah pun mengalir perlahan-lahan.
Dia mendengar suara gemerisik. Tanpa s…

Toko Daging

Zachary Gristle adalah satu-satunya tukang daging di kota. Dia memiliki sebuah toko yang menjual daging untuk para pelanggannya. Setiap pagi, ketika Tn. Gristle membuka tokonya, akan selalu ada antrian panjang para pelanggannya yang menunggu diluar. Mereka ingin mendapatkan potongan daging dengan kualitas yang bagus.

Selama perang dunia kedua, bahan pangan sangat sulit ditemukan dan persediaan harus dijatah. Pemerintah memberikan warga kupon merah untuk digunakan apabila mereka ingin membeli daging.
Ketika perang semakin menjadi, daging menjadi semakin mahal. Pelanggannya tidak senang dan dia kehilangan uang.
Pada suatu petang, Tn. Gristle sedang makan malam bersama anak dan istrinya. Seketika dia menemukan solusi untuk masalahnya.
Dia mulai membeli daging kuda murah dari peternak pasar gelap. Kemudian, dia memotong daging kuda itu lalu menjualnya kepada para pelanggan. Daging itu dijualnya sebagai daging sapi berkualitas.
Tn. Gristle mendapatkan banyak uang, namun tidak lama kemudian…

Ruangan

Suatu malam, Aku mengalami mimpi yang sangat aneh. Aku bemimpi berada di sebuah ruangan dengan dinding yang semuanya berwarna putih. Kelihatannya seperti ruangan steril di rumah sakit, namun tidak ada perabotan sama sekali, hanya ada kasur, cermin, dan wastafel. Di ruangan itu juga tidak ada pintu, yang ada hanyalah sebuah jendela. Ketika Aku membuka jendela itu, Aku menyadari bahwa ruangan itu berada di sebuah gedung pencakar langit dan aku berada di lantai yang sangat tinggi, permukaan tanah di bawah sana terlihat samar-samar.

Sejauh yang Aku ingat, Aku menghabiskan hari-hariku di dalam ruangan itu dan Aku sama sekali tidak tahu apapun tentang ruangan itu. Setiap hari Aku melakukan kegiatan yang sama. Bangun dari tidur, berkeliling ruangan itu dan menatapi dinding. Setiap hari terus saja begitu.
Kemudian suatu hari, Aku merasakan sesuatu yang ganjil. Ada hal yang berbeda. Aku menyadari sebuah retak kecil di dinding. Karena telah bertahun-tahun berada di ruangan itu, Aku ingat sekali…

Kabur

Ayah tiriku selalu membenciku. Ketika Ibu menikah dengannya dan dia tinggal di rumah kami, hidupku jadi terasa seperti di neraka. Apapun yang aku lakukan selalu salah dimatanya dan dia selalu membentakku. 

Pelan tapi pasti, semua kekacauan di rumah mulai mempengaruhi sekolahku. Sulit sekali untuk belajar dan nilaiku semakin menurun. Ketika makan malam bersama aku sangat gugup hingga sulit sekali rasanya untuk makan. Pelan-pelan aku menarik diriku dari teman-teman dan tidak main lagi bersama mereka. 
Semuanya semakin menjadi-jadi. Aku menjadi samsak tinju ayah angkatku. Dia mulai memukuliku tanpa ampun. Dia adalah orang yang besar dan kuat sementara aku terlalu kecil dan lemah untuk melawannya. Setiap pukulan dan tendangan yang dia tujukan padaku menyakitiku secara fisik dan mental. Tidak lama setelah itu Aku diagnosa mengalami depresi.
Dari semua kejadian yang telah terjadi, Ibuku hanya diam saja dan tidak membelaku sama sekali. Dia lebih memilih suami barunya ketimbang diriku. Hal it…

Meng-Google Dirimu

Jangan pernah meng-Google dirimu. Mengapa? karena bisa jadi kau tidak akan suka dengan apa yang kau temukan.

Suatu hari aku merasa bosan dan mengetikkan namaku sendiri di mesin pencarian Google. Aku memiliki nama yang tidak terlalu pasaran, jadi aku yakin hasil pencariannya tidak akan terlalu banyak. Aku kaget sekali ketika ternyata aku menemukan sebuah website yang memiliki domain bertuliskan nama lengkapku.
www,(namaku).com
Ketika aku klik link tersebut, muncullah sebuah papan pesan. Aku memperhatikan profil dari website tersebut dan mengetahui bahwa ternyata orang yang memiliki website itu seusia denganku dan memiliki hobi dan ketertarikan yang sama. Tidak ada posting apapun dalam papan pesan tersebut, namun karena penasaran, aku menyimpan link itu.
Sudah sebulan berlalu, ketika aku melihat kembali website tersebut. Kali ini website tersebut memiliki beberapa konten. Ada beberapa postingan catatan harian, beberapa hal acak seperti "Hari ini cerah banget" atau "Lagi be…

Review : Insidious Chapter 3

Entah bagaimana saya harus berepilog untuk postingan kali ini. Tak perlulah kita berepilog dengan kalimat-kalimat bertele-tele seperti  Apa kabar pembaca sekalian, maaf sekali baru bisa posting kali ini karena blablablabla Namun kalau boleh jujur, setelah sekian lama tidak blogging, jari dan otak ini jadi nggak sinkron karena jarang digunakan untuk mengetik blog yang suram ini.
Enough chit-chat, let's get straight.Apa yang anda rasakan kalau anda memanggil seseorang namun yang menanggapi malah orang lain? Canggung? well... dalamInsidious : Chapter 3 canggung sepertinya bukan kata yang tepat, kita bisa menggunakan kata "terror" sebagai pengganti. Itulah yang terjadi dalam Insidious : Chapter 3.


Dibintangi oleh aktris belia nan manis Stefanie Scott yang berperan sebagai Quinn Brenner, tokoh utama sekaligus korban teror dari 'The Man Who Can't Breathe' yang ingin menguasai diri Quinn sebagai 'peliharaan' di dunia lain.

Insidious : Chapter 3 merupakan pre…