SlideShow

0

Kostum Badut Menakutkan

Hai, selamat akhir tahun ^^. Di tahun berikutnya nanti saya janji deh bakal lebih sering posting kayak dulu lagi. *Janjisamadirisendiri. Makasih banyak buat readers yang udah sempet-sempetin mampir, peluk cium hangat buat yang setia nungguin postingan blog ini (wabilkhusus buat reader cewek) By the way. Siapa yang takut sama badut? 
Ada seorang guru yang membenci murid-muridnya. Dia membenci muridnya dari cara berpakaian, gaya rambutnya yang aneh dan kata-kata kasar yang sering mereka lontarkan. Cara mereka bersandar dibangkunya dan tatapan kosong mereka ketika dia sedang menjelaskan soal matematika yang menurutnya melelahkan. Murid-muridnya sangat muak dan tidak mau berada disekitarnya jika tidak terlalu penting.

Di sekolah, dia terkenal sebagai seorang yang keras dan menyebalkan. Bila salah seorang muridnya melakukan kesalahan yang bahkan sepele, dia tidak segan-segan untuk memberikan hukuman. Remaja perempuan dan laki-laki yang berada disekitarnya selalu memandang rendah namun dia sangat senang untuk membuat anak-anak remaja hidup dalam penyesalan.

Satu malam, ketika dia sedang bersantai di rumahnya, mendengarkan musik klasik, guru itu tanpa sengaja melihat ke arah luar jendela dan melihat sesuatu. Di jendela gedung sebelah sesosok badut yang sedang menari-nari dan menatap kearahnya. Dengan terkejut dia segera menutup jendela dengan gorden dan mencoba melupakan apa yang dia lihat barusan.

Keesokan harinya di sekolah, murid-murid mengganggunya lebih parah. Ketika dia berbalik, mereka mengeluarkan suara-suara aneh untuk mengganggunya. Satu waktu ketika dia duduk di bangkunya, seorang muridnya mengeluarkan bunyi aneh. Dia teramat kesal, dan yang membuatnya makin kesal adalah dia tidak tahu siapa murid yang melakukannya.

Malamnya ketika dia sedang di rumah membaca buku dia melirik keluar jendela. Dia melihat badut lagi. Menari-nari pada jendela yang sama, melambaikan tangan kearahnya seperti orang gila. Ketika badut itu sadar dia diperhatikan, dia membungkukkan badan dan memungut sesuatu. Yang ternyata adalah kapak.

Guru itu tercengang dan lumayan ngeri, badut itu mulai mengayun-ayunkan kapaknya seperti pasien rumah sakit jiwa. Dengan lirikan mata dan seringai menakutkan diwajahnya.

Gorden jendela segera ditarik oleh si guru. Dia mempertimbangkan untuk menelepon polisi, namun apa yang akan dia laporkan? badut itu tidak melakukan tindakan ilegal. setidaknya belum. Kemungkinan polisi tidak mempercayainya. Mereka hanya akan menganggap dirinya gila. Akhirnya si guru memutuskan untuk melupakan hal itu saja. 

Keesokan harinya di skekolah, para murid menatap si guru dalam keheningan. Si guru membayangkan apa yang hendak mereka lakukan. Ketika dia duduk dibangkunya, saat itulah dia baru tahu. Mereka meletakkan paku payung di bangkunya. Dia melompat, dan menjerit kesakitan sambil memegangi bagian yang tertusuk. Murid-muridnya terbahak-bahak.

"Baiklah!" si guru berteriak. "Hukuman untuk kalian semua! kalian tidak akan bisa tertawa lagi karena sore nanti akan pulang telat ke rumah!"

Malamnya, si guru di rumah, menonton film dokumenter di TV. Dan tanpa sengaja lagi dia melihat keluar jendela dan melihat beberapa orang remaja menyeberang jalan. Dia mengenali remaja itu sebagai murid-muridnya di kelas dan kelihatannya mereka berencana untuk membuat grafiti di tembok sebelah rumahnya. Tidak diragukan lagi kalau mereka akan menggambar tentang si guru itu. Tentu saja si guru marah.

Dia mengambil telepon untuk menelepon polisi. Saat itu pula, dia melihat seseorang bersembunyi disudut dinding. Sosok itu adalah badut yang memegang kapak sambil cekikikan. Badut itu hanya tinggal beberapa meter saja dari remaja-remaja yang tidak bersalah tadi.

Si guru ngeri luar biasa. Dia tidak tau apa yang akan dilakukan oleh badut itu, namun pastinya adalah sesuatu yang sangat mengerikan. Si guru harus memperingatkan remaja itu, Dia segera berlari keluar apartemennya, menerjang tangga dan berlari ke jalanan.

"Awas! Awas" si guru berteriak sambil menangis, namun dia terlambat.

Dia tidak bisa melakukan apapun ketika badut itu menyerang muridnya sendiri. Dia mendengar jeritan mengerikan ketika si badut mengayunkan kapak kearah mereka. Remaja-remaja itu mencoba berlari namun tidak bisa. Mereka terpojok dan si badut mengayunkan kapaknya kembali, menebas dan memotong tanpa ampun.

Benar-benar sebuah pembantaian. Darah menggenang disekitar situ, tangan serta jemari murid-muridnya berceceran di trotoar. Si guru menutup matanya.

Seketika itu pula terdengar sirene dan beberapa mobil polisi berhenti tepat didepannya. Dalam kegelapan, lampu mobil polisi mengarah kepadanya. Dia melihat dirinya sendiri dan menyadari bahwa dia tengah mengenakan pakaian badut. Dikakinya terpasang sepatu badut yang besar.

"Letakkan! Letakkan!" dia mendengar polisi berteriak.

Kapak yang berdarah-darah berada digenggamannya.
2

Guru Matematika

Ketika aku masih sekolah, aku pernah memiliki seorang guru matematika yang masih muda bernama Mr. Stigson. Selain masih muda dia juga lumayan tampan, kira-kira begitulah pikir para gadis di kelasku. Dia bermata biru dan sering bercukur. Biarpun begitu, dari pertama kali dia datang ke sekolah kami, semua orang membencinya.

http://data2.whicdn.com/images/14270624/thumb.jpg
Dia memiliki sifat yang terlalu galak. Dalam perkara yang remeh, dia bisa jadi sangat marah, mengoceh, dan membentak kepada semua orang yang sedang sial lewat di depannya. Sering terdengar suara teriakan dan bentakannya di koridor atau di kelas. Terkadang dia mengancam siswa secara fisik, namun dia tidak pernah memukul siapapun. Biar begitu, seluruh kelas takut kepadanya. Bahkan para guru yang lain pun segan kepadanya dan lebih memilih menjauh darinya.

Suatu hari, seorang gadis bernama Beverly terlambat masuk kelas. Dia membuka pintu tepat ketika Mr. Stigson berada di tengah-tengah kegiatan mengajar. Dia membentaknya dan mengancamnya dengan berbagai kata-kata kasar. Mr. Stigson membentak tepat di depan wajah Beverly, mencoba mengintimidasinya. Mr. Stigson menggenggam pergelangan tangan Beverly lantas mendorongnya ke dinding.

Beverly adalah gadis yang pendiam dan selalu bersikap baik dan dia sama sekali tidak pantas menerima perlakuan seperti itu. Mr. Stigson sudah terlalu dekat dan nyaris menyentuh bagian pribadi Beverly. Beverly mencoba untuk mendorong Mr. Stigson, namun ketika tangan Beverly menyentuh Mr. Stigson, suasana semakin memburuk.

Stigson melangkah mundur lantas dia menampar Beverly. Kami semua kaget. Bahkan Beverly sendiri tidak percaya atas apa yang Stigson lakukan padanya. Beverly berdiri tercengang di sana untuk beberapa saat, kemudian dia berlari keluar ruangan, sambil tersedu dan memegang pipinya.

Stigson kembali mengajar seperti tidak terjadi apa-apa. Ruang kelas seketika senyap. Ketegangan sangat terasa saat itu. Terdengar sangat jelas suara detik jam. Tidak ada yang ingin mengambil resiko berurusan dengannya lagi. Kami semua tahu bahwa Mr.Stigson akan terkena masalah besar.

Keesokan harinya, ibu Beverly datang ke sekolah untuk berbicara dengan Mr. Stigson. Stigson keluar kelas berjalan kearah koridor dan menutup pintu di belakangnya. Seluruh kelas masih hening, kami mencoba untuk mencuri dengar dari percakapan yang terjadi di luar kelas.

Ibu Beverly mulai menjerit kepada guru matematika kami, mengutuknya dengan segala macam kutukan. ibu Beverly bilang bahwa dia akan membuat Mr. Stigson dipecat karena telah menyakiti anaknya. Ketika kami mengintip dari jendela, kami melihat Mr. Stigson hanya berdiri terdiam di depan ibu Beverly, tanpa bergerak sedikit pun.  Ada wajah cemberut di wajahnya, namun apapun yang dikatakan oleh ibu Beverly tidak membuatnya bereaksi sedikitpun.

Ketika ibu Beverly berhenti memarahi Mr. Stigson, dia langsung pergi dan Mr. Stigson kembali ke kelas. Wajahnya terlihat merah menyala dan ada amarah di matanya. Tanpa mengacuhkan kami, dia kembali duduk di bangkunya dan menekuri kertas di mejanya hingga bel pulang sekolah berbunyi.

Pagi berikutnya, ketika aku tiba di sekolah, aku mendengar berita mengejutkan.

Ketika Beverly dan ibunya mengendarai mobil untuk pulang ke rumahnya kemarin, mereka mengalami kecelakaan. Mobil yang mereka kendarai menabrak tiang telepon. Ibu Beverly meninggal karena benturan dan Beverly mengalami koma.

Aku sangat ketakutan. Beberapa teman sekelasku menangis. Yang lainnya hanya duduk di bangku masing-masing terdiam. Semuanya tidak mampu berkata apa-apa lagi.

Semuanya tampak lesu kecuali Mr. Stigson. Dia menjalani hari dengan wajah penuh seringai. Aku tidak pernah melihatnya bahagia seperti itu. Terlihat seperti dia diuntungkan oleh musibah yang terjadi pada Beverly dan ibunya. Aku sama sekali tidak mau membayangkan kenyataan itu.

Beberapa minggu berlalu dan untungnya semua kembali normal.

Satu hari, ketika kelas matematika berlangsung, sebuah telepon genggam berdering. Mr.Stigson menggila dan berlari ke sekeliling kelas, untuk menemukan telepon yang berbunyi itu. Ketika dia berhasil menemukan suara yang mengganggu itu, dia mencengkram leher seorang anak bernama Jared dan menariknya dari bangku. Dia mengorek-ngorek saku Jared hingga menemukan telepon genggam itu lantas menyitanya.

Setelah kelas berakhir, Jared berniat untuk meminta telepon genggamnya kembali, Stigson menolak untuk mengembalikan. Telepon genggam itu berada di dalam laci yang dikunci. Jared geram, sepanjang perjalanan pulang sekolah kami merencanakan sesuatu.

Keesokan harinya, ketika kelas berakhir, aku sengaja mengganggu Mr. Stigosn dengan pertanyaan bodoh tentang masalah matematika yang mudah sementara itu Jared mengendap-ngendap menuju laci meja untuk mengambil telepon genggamnya.

Kami pikir kami telah berhasil, namun sepulang sekolah, aku merasa seseorang mengikuti kami. Aku berbalik dan terkaget melihat mobil truk Mr. Stigson berjalan dengan pelan mengikuti kami. Dia duduk di bangku pengemudi, menatap kami dengan tatapan dingin mata birunya.

Sebelum aku mengatakan sesuatu kepada Jared, truk Stigson tiba-tiba berhenti di tengah jelan. Ketika aku melihat ke sebelah kanan ternyata sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju melewati perempatan. Mobil itu tidak menghiraukan lampu lalu lintas dan menuju kearah kami.

"Awas!!" aku berteriak dan menjatuhkan diri ke pinggir, namun terlambat bagi Jared.

Mobil itu menabraknya, menghempas tubuhnya ke udara. Mengerikan sekali. Aku terkulai lemas di tanah, kaget dan bingung. Ketika aku melihat sekelilingku, aku melihat Jared yang terluka dengan tubuh berdarah-darah terbaring ditengah jalan. Dia tidak bergerak sama sekali. Mobil Stigson juga sudah tidak berada disana.

Ambulans tiba di lokasi beberapa menit kemudian dan membawa Jared ke rumah sakit, namun dokter tidak bisa berbuat banyak. Beberapa jam kemudian, Jared meninggal.

Beberapa hari sebelum aku merasa cukup baik untuk kembali ke sekolah. Menyaksikan kecelakaan benar-benar membuatku trauma. Dalam kelas matematika, Stigson melirikku, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia tidak menyebutkan apapun tentang kecelakaan atau kematian Jared. Namun terlihat senyum licik di wajahnya.

Malamnya aku mendapat telepon dari Beverly, aku tidak menyangkanya. Dia masih berada di rumah sakit, memulihkan diri dari cedera yang dideritanya, dia telah berhasil bangun dari koma dan cukup baik untuk berbicara di telepon.

Dia bilang kalau dia telah mengetahui tentang kecelakaan Jared dan bertanya padaku apakah aku sedang berada di dekat Jared saat kecelakaan itu terjadi. Aku bilang aku sedang bersama Jared saat itu dan aku bilang juga bahwa Stigson berada tidak jauh dari sana juga.

"Aku tahu!" Beverly menangis. "Tepat sebelum ibuku menabrak tiang telepon, aku melihat sesuatu. Aku melihat keluar jendela dan melihat sebuah truk disebelah kami. Mr. Stigson berada di bangku pengemudi. Walaupun buram namun jelas sekali itu adalah dia. Dia hanya menatap kami saat itu...."

Intinya, Beverly bilang Stigson entah bagaimana caranya adalah penyebab kecelakaan yang terjadi. Aku tidak tahu harus apa. Semuanya terdengar gila, Namun jika Stigson berada di lokasi pada kedua kecelakaan itu, memang sepertinya dia terlibat. Namun terlalu banyak kebetulan.

Beverly berpesan padaku bahwa aku harus waspada terhadap Stigson. Dia bilang Stigson adalah orang yang berbahaya dan bisa jadi aku adalah korban berikutnya. Aku jadi makin tidak habis pikir.

Pagi berikutnya, ketika aku pulang sekolah, aku melihat sebuah truk terparkir di ujung jalan. Itu adalah truk milik Stigson. Aku tidak melihat ada pengemudi di dalamnya dan ketika aku di dekat truk itu, mesin truk itu tiba-tiba saja menyala dan meraung-raung di jalanan. Aku terlonjak kaget.

Aku jadi sering merasa gugup. Setiap malam, aku selalu melihat mobil truk milik Stigson terpakir di seberang rumahku. Terkadang, dia sengaja memperlihatkan dirinya, duduk dibangku pengemudi, menatapku dengan mata birunya yang dingin. Dia mencoba untuk mengintimidsasiku.

Setelah beberapa lama, aku benar-benar merasa ada yang salah dengan diriku. Aku kehilangan nafsu makanku. Berat badanku mulai menurun. Jika aku tertidur, mimpiku selalu dihantui oleh Stigson.

Orang tuaku pikir aku terlalu lelah karena sekolah, akhirnya, Mr. Hawthorne, guru IPA-ku, menghentikanku di koridor dan bilang kalau dia ingin bicara denganku di kantornya.

"Ada yang ingin kamu ceritakan pada saya?" dia bertanya. "Hal yang harus kamu ceritakan pada orang lain, hal mengenai.... Mr. Stigson, mungkin?"

Aku mengangguk pelan. Lalu semuanya kuceritakan kepada Mr. Hawthorne. Aku menceritakan kecurigaanku tentang keterlibatan Mr. Stigson dalam kecelakaan yang terjadi.

Ketika aku selesai bercerita, ekspresi wajah Mr. Hawthorne terlihat aneh.

Aku terduduk diam, kupikir dia akan menganggapku gila dan aku akan diusir dari kantor. Namun dia malah menepuk bahuku dan bilang kalau dia percaya padaku.

Dia bilang, beberapa tahun lalu, dia dan Mr. Stigson mengajar disebuah sekolah lain. Dia juga mencoba membongkar kecelakaan-kecelakaan aneh di sekolah, selama Mr. Stigson mengajar disana.

Tepatnya, terjadi masalah pengerusakan. Beberapa siswa merangsek masuk ruang kelas dan menyemprotkan cat semprot ke dinding. Mereka juga membongkar meja guru dan mencuri beberapa perlatan. Kelas terakhir yang dirangsek adalah ruang kelas Mr. Stigson.

Hari berikutnya, tiga siswa meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Beberapa benda yang dicuri dari meja guru ditemukan didalam bagasi mobil dan juga ada kaleng cat tergeletak di bangku penumpang. Jelas sekali merelah pelaku pengerusakan di sekolah.

Semua orang ketakutan, semuanya kecuali Stigson. Kecurigaan Mr. Hawthorne muncul ketika dia melihat betapa senangnya Mr. Stigson ketika dia mempelajari tentang kecelakaan itu.

Suatu ketika, sekolah itu harus menghentikan beberapa guru. Mr. Hawthorne dan Mr. Stigson kelihangan pekerjaannya. Hari berikutnya, kepala administrasi sekolah yang memberhentikan mereka ditabrak oleh mobil. Akhirnya dia meninggal di rumah sakit.

Mr. Hawthorne berkata ketika dia pergi meninggalkan gedung, dia melihat Stigson berdiri di depan pintu utama, memandang kepala adminstrasi. Dia menjelaskan tatapan dingin yang sering aku lihat juga dari Stigson. Sejak saat itu Mr. Hawthorne selalu mengawasi gerak-gerik Stigson.

Aku semakin heran dan tidak tahu harus berkata apa. Aku bilang pada Mr. Hawthorne kalau kami harus melakukan sesuatu. Jika Stigson bertanggung jawab pada kecelakaan-kecelakaan yang terjadi, kami harus menghentikannya. Kami harus menghubungi polisi.

Hawthorne menggeleng kepalanya, getir.

"Tidak ada bukti," dia bilang. "Stigson tidak bisa dikaitkan dengan apapun. Bahkan jika polisi mempercayai kita, tidak akan bisa menjadi sebuah kasus. Tidak ada hakim yang mampu memenjarakannya."

"Kalau begitu, tidak ada yang bisa kita lakukan," aku berkata pasrah.

"Tidak perlu khawatir," kata Mr. Hawthorne. "Biar aku yang mengurusnya."

Malam itu, ketika aku berjalan pulang sekolah aku benar-benar merasakan kalau seseorang sedang memperhatikanku. Bulu kudukku merinding. Aku melihat sekeliling dan melihat mobil truk Mr. Stigson.

`Mobil itu terparkir di seberang jalan dan Stigson tengah berdiri disebelah kanan mobil itu. Aku gemetar seketika. Wajahnya bercampur dengan amarah ketika dia menatapku, mata dinginnya kini mengandung kebencian.

Hal berikutnya yang aku tahu, aku merasa sesuatu meremas leherku. Dia sudah mencekikku. Aku tidak bisa bernafas. Aku ketakutan dan gelagapan memegangi leherku.

Semuanya terlihat gelap.

Aku akan mati.

Tiba-tiba aku mendengar suara bising. Suara gesekan memekakkan telinga, diiringi dengan suara logam yang saling bertabrakan. Rasa tercekik dileherku sirna dan aku bisa bernafas lagi.

Ketika aku menyadarkan diri, aku melihat apa yang tengah terjadi. Sebuah mobil menabrak tepat pada mobil truk. Stigson terjepit di antara dua mobil itu. Bagian tubuh atasnya terkulai pada bagian depan mobil dengan genangan darah. Dia tewas seketika. Mayatnya benar-benar hancur hingga isi perutnya terburai keluar dari mulutnya. Benar-benar mengerikan.

Pintu mobil yang menabrak terbuka dan seseorang keluar dari mobil itu dengan tergopoh-gopoh. Orang itu selamat dari kecelakaan, namun terluka parah. Dia jatuh berlutut di tengah jalan.

Aku berlari untuk menolongnya dan ketika aku melihat wajahnya, aku terdiam seketika.

Orang itu adalah Mr. Hawthorne.
4

Creepy Diary 2

Dapat rezeki yang lumayan di sore hari sepulang kerja. Satu novel dikirimkan ke rumah. Adapun judul novel itu adalah Creepy Diary 2 karya Ayumi Chintiami. Tak perlu banyak kata lagi, mari kita bedah.

Judul buku         : Creepy Diary 2
Penulis              : Ayumi Chintiami
Penerbit            : Bukune 
Tanggal terbit    : Mei 2014
Jumlah halaman : 292 halaman

Creepy Diary 2
Adalah seorang gadis bernama Ayumi yang memiliki kemampuan bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh orang kebanyakan. Ayumi sering kali melihat makhluk-makhluk mengerikan, mengalami mimpi-mimpi aneh dan bahkan visualisasi dari peristiwa yang belum pernah terjadi. Sama seperti novel sebelumnya, pada Creepy Diary 2 Ayumi kembali menemui arwah penasaran dengan latar belakang kematian yang bisa dibilang kelewat getir serta kejadian-kejadian aneh serta sosok-sosok mengerikan yang dia temui sepanjang perjalanan ketika berwisata mistis bersama teman-temannya menelusuri tempat-tempat mistis di tanah Jawa dan pengalamannya 'berjalan-jalan' di dimensi lain yang mengancam nyawanya sekaligus bumbu romansa yang terasa sangat kental dari beberapa bagian ceritanya antara Ayumi dengan kekasihnya Aryo.

(+)Plus
  • Rangkaian kalimat yang digunakan dalam tiap paragraf untuk membangun
    ceritanya terkesan lembut. Ringan untuk dibaca, dilengkapi juga dengan diksi yang tidak terlalu berlebihan.
  • Pesan moralnya mudah dicerna para pembaca. Tiap bagian ceritanya mengandung pesan moralnya masing-masing.
  • Memperluas wawasan pembacanya tentang pemahaman terhadap orang-orang indigo. Tentang bagaimana menyikapi seorang indigo
  • Ilustrasi yang keren, sedikit namun berkesan. Merepresentasikan imajinasi para pembacanya.

(-)Minus
  • Sulit untuk menemukan bagian horror yang benar-benar 'mengigit' dalam novel ini. 
  • Ditemukan beberapa typo.
    • Halaman 122, paragraf 2, baris 3.
    • Halaman 123, paragraf 5, baris 1.
    • Halaman 275, paragraf 3, baris 3.   
Kekuatan terbesar dari karya ini adalah pesan moralnya yang bijak dan sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Penulis mengajak pembacanya untuk selalu berpikiran positif dalam menanggapi setiap kejadian walaupun kejadian itu tidak begitu baik menurut kita, namun Tuhan selalu memiliki rencana lain yang lebih baik untuk hamba-Nya. Dari karya ini juga terdapat cerita yang menggambarkan begitu dahsyatnya kekuatan kasih sayang ketika orang-orang yang begitu menyayangi Ayumi berdoa dengan sepenuh hati agar Ayumi selamat dari astral projection-nya. Dan satu hal lagi yang saya sukai dari buku ini, adalah aroma kertasnya yang agak persis wangi bunga melati. Saya sengaja mendekatkan hidung saya ketika membacanya, dan menghirup dalam-dalam aroma bukunya ketika selesai membaca. Aromanya benar-benar nikmat.
Creepy Diary 2
Terlepas dari kekuatan terbesar tadi, Creepy Diary 2  dapat dikatakan terlalu 'manis' untuk dikatakan sebagai sebuah novel horor. Hantu dengan penggambarannya yang mengerikan sering sekali muncul, ini malah menyebabkan saya menjadi agak bosan karena sering munculnya hantu malah membuat unsur horornya jadi tidak terlalu 'mengigit'. Memang karya ini melibatkan berbagai macam hantu, namun sayangnya hantu-hantu yang muncul dalam cerita kurang berhasil untuk menakuti pembaca. Saya mengambil kesimpulan, sebagai novel horor Creepy Diary 2 adalah novel horor ringan yang cocok untuk dibaca kalangan remaja hingga dewasa.
1

Linimasa (Sisi kelam sebuah kicauan)

Selesai Abatoar langsung saya lahap Linimasa di hari itu juga. Rasanya agak telat kalau saya me-review Linimasa sekarang - sekarang ini, mengingat tanggal terbitnya sudah lewat berbulan - bulan lalu. Well... better late than never. Kita bahas sedikit tentang cerita dalam Linimasa, tanpa spoiler tentunya.

Judul buku : Linimasa (Sisi kelam sebuah kicauan)
Penulis : @kisahhorror
Penerbit : Mediakita
Tanggal terbit : November - 2013
Jumlah halaman : 340


Linimasa menceritakan tentang konflik dan intrik anak - anak remaja tanggung persis di sinetron - sinetron yang sering diputar di stasiun televisi kesayangan kita. Adalah Tatiana, gadis berpenampilan sederhana namun selalu meninggalkan kesan baik pada teman - temannya sebagai siswi yang rajin, pintar, suka menolong dan ramah kepada semua orang. Sifat baik Tatiana bukan berarti berimbas baik pada semua orang, tersebutlah lima orang remaja lain yang merasa dipecundangi oleh kebaikan dan prestasi - prestasi Tatiana. Lima orang remaja itu adalah Fransiska, Debbie, Alaka, Dimas, dan Nando yang sepanjang cerita selalu merancang berbagai rencana untuk mencelakakan atau setidaknya membuat sosok Tatiana jadi lebih buruk di mata orang - orang sekitarnya, namun akhirnya salah satu rencana yang mereka buat itu malah mengantarkan mereka pada rangkaian peristiwa mengerikan yang menimpa mereka satu per satu setelah apa yang mereka perbuat pada Tatiana.

Tuh novelnya masuk blog
Menurut saya novel Linimasa adalah jenis novel horror yang kehilangan daya tariknya apabila bagian - bagian 'menggigit' dalam ceritanya saya bongkar juga (Abatoar juga begitu, eh gak cuma Abatoar sama Linimasa juga sih. Banyak cerita horror dan film horror yang seperti itu). Oleh karena itu sinopsisnya saya ringkas sesedikit mungkin. 

(+)Plus
  • Twist yang lumayan menggigit.
  • Alur ceritanya kompleks, berhasil menyentuh kalangan pembaca novel ini yang rata - rata memiliki umur yang hampir sama dengan para tokoh yang terlibat dalam novel.
  • Pesan ceritanya begitu mendalam, sesuai dengan realita yang ada saat ini. Menjadi representasi atas fatalnya perilaku bullying yang sering terjadi di lingkungan masyarakat.
  • Jika dibandingkan dengan Abatoar, susunan kalimat Linimasa lebih rapi dan efektif walaupun memakan banyak halaman. Saya pikir tidak ada pemborosan tinta dalam novel ini.
(-)Minus
  • Ditemukan beberapa typo, sedikit namun harusnya masih bisa dikurangi.
  • Twist nya mengigit buat beberapa orang, namun tidak bagi yang memiliki jam terbang lebih tentang cerita - cerita horror.
Nilai paling besar yang terkandung dalam Linimasa adalah pesan moralnya yang menyentuh. Perilaku bullying di dunia nyata dan dunia maya (cyber bullying) kian marak terjadi, entah siapa yang mengajarkan hal itu pada remaja - remaja saat ini yang jelas bullying adalah salah satu bentuk penyakit masyarakat yang mulai mengakar. Saya pribadi sangat muak pada perilaku bullying yang sering terjadi terutama pada instansi pendidikan, ada banyak sekali orang seperti Tatiana di sekolah - sekolah. Dan Linimasa mengajarkan kita bagaimana cara membalas para pelaku bullying itu.. hahaha
Out of topic mas....
Oh iya maap...
Kita lanjut bahas plotnya Linimasa. 
Tuh yang nulis
Dengan segala hormat kepada penulisnya, jujur ketika cerita sampai pada klimaksnya saya sudah bisa membaca kemana cerita ini akan mengalir (beuh.. sombong...), namun akhir cerita masih saya terawang hingga lembar terakhir. Dan saya perhatikan sekilas, ada pola cerita yang hampir mirip dengan Abatoar, mungkin ini adalah salah satu ciri khas @kisahhorror dalam menciptakan twist ending untuk cerita - cerita selanjutnya. Saya tertarik dengan tokoh Bianca, untuk beberapa saat perhatian pembaca pasti akan tertuju pada dia hingga cerita terus mengalir dan berbagai fakta mulai terungkap. Kalimat yang diucapkan Bianca berhasil menggambarkan emosinya dan itu benar - benar menohok seluruh orang yang terlibat dalam cerita. Keren.

Review Linimasa selesai.

I think... its my turn now...
hahahaha  
0

Toko Daging

Seorang gadis berjalan di pinggir jalan, kemudian seorang kakek buta berjalan ke arahnya. Dia mengenakan kaca mata hitam dan memegang tongkat rotan, berjalan dengan terbungkuk - bungkuk. Kelihatan sekali dia sangat kesulitan untuk berjalan, dan ketika dia berpapasan dengan si gadis dia nyaris terjatuh.

Gadis itu segera menggenggam lengan si kakek dan membantunya berdiri. Si kakek berterima kasih atas kebaikan si gadis. Lalu kakek itu meminta pertolongan pada si gadis.

"Bisa tolong kamu antarkan surat ini ? saya udah tua dan agak susah untuk berjalan di sekitar kota."

Gadis itu memang dasarnya anak yang baik, dia rela menolong si kakek. Setelah menerima surat yang alamatnya tertera jelas di bagian depan surat itu dia berbalik untuk menuju ke tempat yang di tuliskan pada surat itu. Ketika gadis itu berjalan agak jauh dari si kakek, dia sedikit melihat ke belakang dan melihat kakek itu berjalan dengan cepat ke arah lain dengan menenteng tongkatnya. Yang mengejutkan, kakek itu melepas kacamata dan membuangnya ke tempat sampah.

Karena curiga, si gadis membawa amplop itu ke kantor polisi. Polisi pergi ke alamat pada surat itu, ternyata alamat itu adalah sebuah toko daging milik seorang pasangan yang sudah tua. Semua kelihatan seperti biasanya hingga polisi menanyakan tentang ruangan pendingin di belakang toko pada pasangan tua itu. Pasangan itu menolaknya, hingga akhirnya polisi harus memaksa dan mendobrak ruangan pendingin itu.

Di dalam, mereka menemukan pemandangan yang mengerikan. Mayat - mayat digantung dan disusun sesuai dengan potongan - potongan tubuhnya. 

Hingga kini, polisi tengah menyelidiki surat yang di berikan pria buta berikan kepada si gadis. Ketika mereka membuka amplop itu, selembar kertas kecil bertuliskan satu kalimat yang membuat merinding : 

"Ini yang terakhir saya kirim buat hari ini."

0

Abatoar : kamu korban berikutnya ?

Pada awal kemunculanya lumayan sulit untuk menemukan Abatoar walaupun sudah dicari ke beberapa toko buku besar tapi tetap saja sulit. Entah saya yang telat mencari karena sudah terjual habis atau memang distribusi buku ini tidak terlalu luas. Namun kebetulan pada satu acara pameran buku dapat dengan mudah saya temukan buku itu dan tanpa pikir panjang saya langsung membeli dua buku karya @kisahhorror. Linimasa dan Abatoar, sekalian book signing dan minta sedikit wejangan dari dia karena kebetulan saat itu juga Media Kita mengadakan #Horrorday. Selain dihadiri oleh @kisahhorror, #Horrorday juga dihadiri oleh Penchake. 
(Tentang apa atau siapa itu Penchake akan saya bahas di kesempatan lain, saya janji. Tolong jangan gentayangi saya.)

Abatoar ?

"Abatoar itu bukannya tempat buat orang - orang jalan kaki di pinggir jalan raya ya ?"
"Itu trotoar mas..."
"Ohiya lupa, terus Abatoar itu apa ?"
Singkat dan jelas pada pameran buku itu @kisahhorror menjelaskan arti Abatoar.

"Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Abatoar adalah rumah jagal"

Itu saja, singkat dan jelas. Sekarang kita bahas isi bukunya. Saya akan berusaha keras agar tidak spoiler. 

Judul buku : Abatoar : kamu korban berikutnya ?
Penulis : @kisahhorror
Penerbit : MediaKita
Tanggal Terbit : April - 2014
Jumlah halaman : 194 halaman

(+) Plus 
  • Konsep ceritanya keren, menantang pembacanya dan bisa memikat dari halaman pertama.
  • Penokohan karakter yang kental, masing - masing karakter yang membangun ceritanya memiliki cerita masa lalu yang membuat karakternya jadi lebih hidup.
  • Berhasil memancing pembaca, antara deg - degan ketakutan dengan deg - degan karena bumbu romansanya yang sedikit namun menyentuh.
  • Ilustrasi di beberapa halaman membantu imajinasi pembaca menggambarkan suasana ngerinya. Saya sendiri paling suka ilustrasi ketika Alana diikat. Itu ngeri.
(-) Minus
  • Masih ada typo yang seharusnya bisa dihindari.
  • Ada beberapa pengandaian yang bertele - tele. Pengandaian yang seharusnya tidak terlalu dibutuhkan namun masih ditulis juga. Menurut saya ini adalah pemborosan tinta.
  • Agak sulit menangkap karakter dasar Alana. Karena ada dialog yang dia ucapkan pada Bayu yang tidak menggambarkan kalau Alana ini sangat menderita. Di satu bagian dia merasa pasrah pada nasibnya, namun di bagian cerita lain dia malah jadi begitu kuat dan di bagian cerita berikutnya dia kembali lagi jadi gadis yang pasrah. Perubahan sifat Alana ini menurut saya tidak stabil.
Abatoar menceritakan tentang sebuah rumah besar yang dihuni oleh lima orang pembunuh yang memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda - beda namun biar begitu masing - masing memiliki kesamaan kebiasaan. Membunuh. Dan karea kesamaan kebiasaan itu mereka menjadi begitu dekat layaknya sebuah keluarga. Singkat cerita (karena nggak mau spoiler) seorang gadis bernama Alana datang ke rumah itu bermaksud untuk mencari temannya yang hilang, namun dia malah disekap oleh Mas Moh yang merupakan salah satu penghuni rumah itu (silakan cari tahu sendiri siapa itu Mas Moh.) Dimulailah perjuangan Alana untuk menyelamatkan dirinya dari rumah besar dengan alur cerita yang apik dan sulit untuk diduga.

Abatoar memiliki cerita yang lumayan singkat, hanya delapan bab. Namun bukan berarti Abatoar miskin kualitas cerita. Justru dalam ringkasnya cerita ini, terdapat komposisi cerita yang padat. Aroma horror slasher, pergolakan jati diri salah satu tokoh yang memutar balikkan cerita, ironi yang terjadi pada masing - masing tokoh, dan juga romansa cerita sebagai obat penawar kesadisan cerita ini. Novel ini dilabeli dengan label sakti '18+' karena memang ceritanya berhasil menggambarkan sisi busuk manusia yang ada sekarang. Anda akan sering menemukan kata 'Membunuh','Menggorok','Memerkosa','Menyiksa','Memukuli' dan berbagai kata - kata yang efektif untuk mental disturbing. Jujur saya sendiri tidak tega membayangkan nasib Alana dalam cerita ini yang berjuang untuk bertahan hidup. Keren.

Namun biar begitu ada beberapa bagian cerita yang menurut saya agak ganjil, misalnya ketika si penjaga villa berusaha mencari - cari Anna yang menghilang hingga si penjaga villa ini mencari Anna ke kampung sebelah, tapi entah mengapa Alana dengan mudahnya berfirasat kalau temannya ini berada di rumah besar. Kejadian yang sama juga terjadi pada polisi yang datang ke kampung itu untuk melakukan penyelidikan. Firasat Alana masih jauh lebih tajam dibandingkan dengan penyelidikan polisi karena polisi malah begitu sulit melakukan penyelidikan. Saya rasa ini agak ganjil.

Antara skala 1 hingga 10. Saya akan memberikan angka 8.7 pada karya ini berdasarkan pada berbagai kelebihan dan kekurangan yang saya tuliskan di atas. Andai saja @kisahhorror lebih mengefektifkan lagi kalimat - kalimat untuk menyusun cerita, angka 8.7 bisa naik menjadi 9.0.

Review ini dibuat tanpa mengurangi rasa hormat pada sang penulis, munculnya novel - novel atau kumpulan cerpen horror baru - baru ini benar - benar memberi warna dunia literatur di Indonesia. Di tengah maraknya karya - karya komedi yang jayus dan cerita - cerita metropop yang mencengkram kuat pasar buku - buku cerita, penulis cerita horor berhasil memberikan warna baru. 

Sebelum saya akhiri, ada satu quote yang selalu saya ingat dari Abatoar.

There's the time when the world crumble and i know you will always stay with me

Aww... so sweet...

*lanjut baca Linimasa
0

Maaf, Bu...

Tersebutlah seorang wanita yang hidup bersama suaminya di sebuah desa kecil di negara Spanyol. Pasangan tersebut memiliki seorang anak laki - laki bernama Federico yang agak nakal. Orang tua Federico tidak habis pikir karena anaknya sering sekali membuat masalah di sekolah.

Suatu pagi, ibunya membangunkan Federico seperti biasa dan menyiapkan segala peralatan Federico untuk sekolah. Sementara Federico bersih - bersih, ibunya menyiapkan sarapan. Setelah selesai harapan, ibunya mengantarkan Federico ke bus sekolah.

Sisa hari ibunya dihabiskan dengan membersihkan rumah. Ketika masuk jam maka siang, saat dia beranjak ke ruang keluarga dia kaget bukan main. Anaknya berada di sana, duduk menghadap jendela ke arah luar. 

"Federico !" ibunya membentak.
"Kamu ngapain jam segini udah pulang ? kenapa gak sekolah ?!"

Anak itu diam tak bersuara sambil berbalik menghadap ibunya. Ibunya menyadari ada darah di dahi anaknya.

"Itu, kenapa dahi kamu berdarah ?" tanya ibunya.

"Bu, aku minta maaf..." jawab Federico.

"Kamu berantem lagi ya ? dipulangin sama ibu guru ?" Ibunya bertanya lagi.

"Aku minta maaf, bu..." Federico menjawab lagi dengan agak berbisik.

"Ibu nggak mau dengar alasan kamu, pergi ke kamar sampai ayah pulang. Biar ayah yang hukum kamu !"

Federico menunduk dan perlahan dia berjalan ke kamarnya. Ibunya memalingkan wajahnya, dia sudah terlalu muak melihat anaknya sendiri.

Saat itu pula telepon berdering. Ibu bergegas mengangkat telepon.

"Halo, " kata suara di ujung sana.
"Boleh saya bicara dengan ibunya Federico."

"Iya, maaf dari siapa ya ?"

"Ini kepala sekolahnya Federico."

"Duh, gawat...  mohon maaf sekali pak... anak itu emang agak susah diaturnya. Maaf sekali. Kalau boleh tahu, kali ini apa yang dia lakukan pak ?"

"Hmm... gimana jelasinnya ya bu. Pagi ini Federico manjat - manjat atap sekolah...."

"Astaga ! itu anak !! maaf sekali pak... hal kayak gini sering banget kejadian. Maaf ngerepotin bapak jadinya. Pulang nanti ayahnya bakal hukum dia."

"Eh, nggak bu... bukan gitu maksudnya. Federico jatuh dari atap sekolah, kepalanya bocor, dia... meninggal seketika..."

Telepon terlepas dari genggaman ibu Federico. Air mata mengalir di pipinya. Dia berlari ke kamar Federico.

Dan tidak ada siapapun di sana. 
1

Cerita Paling Seram Yang Pernah Ada

Empat orang pergi berlibur musim panas. Mereka menginap disebuah hotel bintang lima yang megah. Karena ingin menikmati pemandangan seluruh kota, mereka memesan kamar yang berada pada lantai 100.

Sore itu mereka pergi keluar bersama - sama untuk berkeliling kota. Ketika mereka akan meninggalkan hotel, mereka menitipkan kunci kamar pada resepsionis.

"Maaf, sebentar," kata resepsionis memanggil empat orang itu yang sudah hampir keluar gedung, "saya mau kasih tahu kalau nanti malam akan ada perbaikan gedung. Mulai dari tengah malam hingga esok pagi, lift akan diperiksa dan diperbaiki. Tolong agar kembali sebelum tengah malam jika anda mau menggunakan lift nanti malam, karena setelah tengah malam lift tidak bisa dipakai."

Empat orang itu mengiyakan namun tetap saja mereka kelupaan. Saking menikmati suasana mereka baru pulang pada pukul 1 malam. Seperti yang diberitahukan resepsionis, lift tidak bisa digunakan. Mereka tidak punya pilihan lain selain naik ke lantai 100 dengan menggunakan tangga. Ketika ditengah perjalanan menaiki tangga, salah satu dari mereka berkata

"Eh, gue bosen. Gimana kalo kita gantian buat cerita serem. Tiap satu lantai satu cerita serem  jadi kita berhasil cerita 100 cerita serem seumur hidup kita. 

Tiga orang lainnya setuju, dan cerita - cerita seram mulai diceritakan sepanjang lantai yang dilewati. Mereka sudah tidak ingat pukul berapa saat itu, yang jelas pada akhirnya mereka berhasil sampai pada lantai ke 99.

"Yah, kayaknya gue yang harus terakhir cerita," salah satu dari mereka berkata. "Cerita gue kali ini, bakal jadi cerita paling serem yang pernah lo semua denger. Gue ga bercanda. Cerita gue ini lebih serem dari semua cerita yang barusan diceritain."

Tiga orang lainnya tertawa geli mendengar perkataan temannya itu. Mereka semua sudah terlalu lelah dan mereka juga menyadari kalau perjalanan hanya tinggal satu lantai dan hanya tinggal satu tangga lagi untuk melepas lelah yang mereka rasakan.

"Okeh, kalo gitu, " yang mau bercerita mengambil nafas dalam - dalam. "Begini ceritanya, kita, emm... agak sedikit lupa ngambil kunci kamar di meja resepsionis."
0

Bukan Tipe Saya

Tidak ada gadis yang menolak untuk kencan dengan Charles Spiffington. Dia lahir dari keluarga kaya. Dari dulu semua keinginannya selalu dipenuhi oleh keluarganya. Ketika dia tumbuh besar, ayahnya memberikan kebebasan untuk anaknya untuk menggunakan harta yang dimiliki ayahnya.

Dia mengendarai mobil mewah, makan di restoran mewah, menggunakan pakaian - pakaian merk terkenal dan tinggal di hunian mewah juga. Punya banyak uang membuat Charles percaya kalau dia bisa menarik perhatian gadis dengan mudah. Tidak ada gadis yang berani menolak ajakan Chales Spiffington. Namun semua berubah ketika dia bertemu dengan seorang gadis bernama Gillian Hackworth.

Mereka bertemu tanpa sengaja ketika mereka saling bertabrakan di cafe pada suatu sore. Setelah dengan sopan Charles memperkenalkan diri, mereka berdua duduk disebuah meja berdua dan Charles memesan kopi dan roti. Mereka berdua menghabiskan waktu berjam - jam membicarakan tentang musik, buku dan film kesukaan mereka.

Waktu berlalu dan tanpa sadar cafe sudah mau tutup. Gillian berterimakasih atas traktiran dan pembicaraan hangatnya. Ketika dia ingin pergi, Chares dengan lembut menggenggam tangannya.

"Gillian, saya senang bisa ngobrol sama kamu. Saya mau kita bisa ketemu lagi. Gimana kalau besok malam ? Makan malam terus nonton film. Saya traktir semuanya."

Kemudan hening sejenak, lalu Charles melihat senyum manis Gillian perlahan berubah menjadi pandangan marah dan jijik.

"Maaf Charles, cuma... kamu itu.... bukan tipe saya." Gillian menjawab dengan dingin.

Ketika itu pula dia menarik kembali tangannya dan keluar cafe dengan tergesa - gesa. Charles hanya terduduk disana, tidak habis pikir. Dia bingung apakah dia telah melakukan kesalahan. Padahal ketika ngobrol tadi semuanya berjalan dengan baik. Apa yang membuat dia jadi sebegitu marahnya ?

Sebagai seorang yang keras kepala, Charles tidak akan membiarkan Gillian pergi begitu saja. Dari pembicaraan kemarin, Gillian bilang kalau dia adalah orang yang punya rutinitas teratur. Jadi selama beberapa minggu, Charles selalu berada di Cafe, berharap agar dia bisa tabrakan dengan Gillian lagi. Tiap kali dia di cafe, dia juga membawa segenggam bunga ditangannya.

Setiap hari, sebelum Gillian masuk ke dalam cafe dia selalu mengintip dari jendela cafe dan melihat Charles duduk di dalam menunggunya. Setelah itu dia pasti akan kembali lagi ke mobilnya dan pergi.

Hal seperti itu terus berlanjut agak lama. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Akhirnya Charles tidak sanggup lagi. Setelah ratusan kali Gillian pergi meninggalkannya, Charles mengambil bunga yang dia beli untuknya dan membantingnya ke lantai. Dia menginjak - injak bunga itu, cukup menarik perhatian seisi cafe. Biar begitu Charles tidak peduli.

"Cukup sudah ! itu yang terakhir. Gillian Hackworth, saya nggak peduli kamu mau bilang apa. Saya bakalan jadikan kamu sebagai pacar saya. Nggak peduli walaupun itu harus jadi hal terakhir yang saya lakukan buat hidup !"

Keesokan harinya, Charles mencari alamat rumah Gillian dan pergi ke rumahnya. Di luar sudah hampir gelap dan awan juga mulai menghitam. Sepertinya akan ada hujan badai. Charles keluar dari mobil dan berjalan ke depan pintu rumah Gillian. Dengan tidak sabar dia mengetuk - ngetuk pintu rumah Gillian hingga setelah lima menit akhirnya mesin penjawab di pintunya menyala. Dia mendengar suara Gillian.

"Kamu mau apa Charles ?"

Charles mendekatkan mulutnya ke mesin penjawab.

"Gillian, saya nggak ngerti kenapa kamu nggak mau jalan sama saya. Padahal kita udah seru - seruan bareng di cafe. Udah jelas kita punya banyak kesamaan. Kita sama - sama menikmati kebersamaan kita. Saya nggak ngerti apa yang salah. Kenapa kamu nggak mau jalan sama saya ?"

"Saya udah bilang charles, kamu bukan tipe saya." Jawab Gillian singkat.

"Kalau saya bukan tipe kamu, lalu siapa yang jadi tipe kamu ? saya bisa belikan kamu pakaian bagus. Kasih kamu perhiasan indah. Saya bisa ajak kamu ke restoran mewah. Terus apa yang harus Saya kasih ke kamu biar kamu mau jalan sama saya ?"

Hening sejenak, lalu Gillian membuka pintunya.

"Oh, Charles... Charles.... " Gillian geleng - geleng kepala.

"Saya sudah bilang, kamu bukan tipe saya. Tapi kalau kamu mau tahu seperti apa tipe saya, sini masuk biar saya kasih lihat."

Charles senang bukan main karena usahanya terbayarkan, dia melangkah masuk dan Gillian menutup pintu rumahnya.

"Kamu lihat pintu di ujung koridor itu ?" Giliian bertanya.

"Iya ?"

"Silakan lihat ke dalam dan kamu akan lihat aku suka tipe cowok kayak apa."

Charles menuruti apa kata Gillian. Dia berjalan menuju ujung koridor dan membuka pintunya. Disana ada tangga yang mengarah langsung ke basement. Sepanjang dia turun ke bawah, Charles membayangkan apa yang akan Gillian tunjukan kepadanya. Dia pikir dia akan ditunjukkan foto dari mantan - mantan pacarnya yang ingin Gillian perlihatkan padanya.

Ketika dia sampai di akhir tangga, dia menyadari ada bau aneh. Baunya seperti daging busuk. Charles menutup mulut dan hidungnya, dia berusaha meraih tombol lampu dan menekan tombolnya.

Dalam penerangan remang -  remang, ternyata dia dikelilingi oleh dua belas atau tiga belas mayat pemuda.Ada mayat yang dipaku di dinding ada yang digantung dan ada juga yang ditumpuk - tumpuk begitu saja di kotak kayu. Dan semua mayat itu tanpa kepala.

Di meja, dekat dinding, kepala mereka disusun berbaris. Mata mereka terbuka, menatap hampa.

Tiba - tiba, Charles merasakan tepukan dibahunya. Dia berbalik dan Gillian ada disana, menggenggam kapak. Sebelum Charles sempat teriak, Gillian menebas kepala Charles hingga lepas dari lehernya. Kepalanya yang terpenggal melayang di ruangan itu dan tubuhnya terkapar ditanah.

Gillian meletakkan kapaknya. Dan berjalan menuju kepala Charles, menarik rambutnya dan tersenyum.

"Sekarang kamu udah jadi tipe saya," kata Gillian lalu mencium bibir Charles.