SlideShow

0

Tiga Tahun

Selamat malam.
Umpamanya bayi, umur tiga tahun itu adalah waktu dimana bayi baru belajar jalan. Setapak, dua tapak langkah lalu terjatuh, lecet, terus menangis sebentar, istirahat, lalu jalan lagi. Terus begitu hingga akhirnya bisa proses kehidupan menempanya hingga bayi itu menjadi remaja yang bisa berlari mengejar angin.

Kok jadi bahas bayi umur tiga tahun ?
Saya bukan mau bahas tentang video kutukan iklan popok bayi itu kok, hehehe. 
Sebagai sebuah blog yang ditulis oleh seorang awam, Fear Your Fate masihlah sangat... sangaat... sangaat......... biasa. 

Ya begitulah, Fear Your Fate telah menginjak umurnya yang ketiga. Terus bertahan dengan segala upaya menghadapi gangguan - gangguan makhluk iseng setiap k
ali lagi ngeblog. Mulai dari suara - suara aneh dari dapur, mouse yang tiba - tiba ngadet, wangi melati yang semerbak harum mewangi di malam jum'at, hingga yang paling parah yang bikin saya langsung stop blogging di satu malam adalah.... mati listrik (buat yang mati listrik itu, mungkin PLN nya aja yang lagi iseng).

Sama sekali enggak mengira kalau Fear Your Fate bisa bertahan hingga tiga tahun. 
Ya terus gimana dong ?
Ya gak gimana - gimana. Orang blog ini dibikin karena iseng doang.
Gak ada yang spesial kok. Hehehe.
Cuma mau kasih tau aja kalo ini blog gak nulis sendiri. 
Adminnya masih hidup, sehat, dan ganteng.

Yaudah, gitu aja.
Dadah.
0

Hanya Sedang Jalan - Jalan Malam

Mau berangkat, pengen ngapel



Selamat Ngapel...


0

Belum Sepenuhnya Buta

Kakakku akan memulai kuliahnya, namun dia kehilangan pengelihatannya. Dokter sendiri tidak tahu mengapa. Yang jelas sekarang dia buta dan mendapatkan perawatan dirumah. Kala pertama kali dia mengalami kebutaan, kejiwaannya benar - benar terguncang, pernah suatu ketika dia memutuskan untuk bunuh diri. Namun semuanya berubah, kupikir begitu.

"Aku akan baik - baik saja, " katanya. Dia benar - benar berubah, memanfaatkan seluruh waktu yang dia punya untuk menenangkan diri. Namun bukan itu yang aku maksud. Dia malah mulai membicarakan hal - hal aneh kepadaku.

"Aku mendengar suara dan melihat sesuatu yang aneh," dia bilang padaku tanpa rasa sedih sedikitpun.

"Pikiranmu pasti sedang berhalusinasi," aku pikir begitu, memang apa lagi selain itu ?

"Kemarin, aku berani sumpah aku melihat sekelompok makhluk kerdil berwarna hijau mengelilingi tempat tidurku." Seumur hidupnya, kakakku tidak pernah percaya dengan hantu atau hal - hal gaib lainnya, jadi ketika dia membicarakan hal seperti ini aku benar - benar kaget. Mungkin karena aku meresponnya dengan baik dia jadi sering sekali membicarakan pengalamannya yang itu setiap harinya. Dia mengaku pernah melihat sebuah gerbang kuil dan tangan raksasa, dan dia juga bilang kalau dia sering mendengar langkah kaki walaupun dia sedang sendirian.

Dia tidak ingin membuat orang tua kami khawatir, jadi dia hanya menceritakan hal itu kepadaku. Namun suatu ketika dia tidak keluar - keluar dari kamarnya. Aku mulai khawatir, jadi aku memeriksa keadaannya di kamar. Aku melihat dia sedang mengigil dibalik selimut, ketakutan.

"Pintu ditutup, semua lampu mati," suaranya terdengar sangat tertekan. "Mataku juga tidak bisa melihat, namun dia masih berada disana, berdiri di depan pintu, mengenakan kimono... Dia menunduk, tapi aku tahu pasti lidahnya sangat panjang. Aku tidak bisa melihatnya lagi karena kamu disini. Yang jelas tadi itu benar - benar menyeramkan. Aku sama sekali tidak percaya hantu."

Setelah mendengar itu, beberapa saat aku jadi agak takut melewati pintu. Yang membuatku kaget juga adalah setelah apa yang dia lihat dan dengarkan, dia masih tidak percaya pada hantu.

"Aku melihat arwah atau apapun, namun bisa jadi itu hanya halusinasi dari otakku karena aku ingin bisa melihat sesuatu, maksudku, mereka tidak mungkin ada kan ? aku bisa memberitahu kamu makhluk apa saja yang ada diruangan ini sekarang, mereka semua kelihatan jahat, aku sama sekali tidak ingin melihat mereka.... Tapi kalaupun memang benar mereka adalah hantu, ada banyak sekali disini"
0

Boneka Kutukan

Karena urusan pekerjaan, aku jadi lebih sering berpindah - pindah rumah. Terkadang aku menyewa apartemen dan kadang - kadang aku mengontrak rumah. Peristiwa ini terjadi ketika aku tinggal disebuah tempat bernama Hagi di prefektur Yamaguchi. Disana ada kontrakan dengan sewa yang rumah di sana oleh karena itu aku tertarik. Keseluruhan bagian rumah terlihat bagus namun ada beberapa kekurangan pada rumah itu. Biarpun rumah itu luas namun rumah itu agak reot dan agak terpencil karena berada di kaki gunung.

Hampir sebulan semenjak aku menempati rumah itu suatu hari anak perempuanku menemukan sebuah kotak aneh di halaman belakang rumah. Selama aku liburan aku sering berkeliling rumah dan berkeliling taman untuk memeriksa segala sesuatunya. Dan seharusnya aku menemukan kotak aneh itu karena kotak itu sangat mudah terlihat dan tidak tersembunyi letaknya.

Aku pikir kemampuan indra keenamku sudah lama menghilang, namun aku bisa merasakan sesuatu yang tidak wajar dari kotak itu. Andai saja aku tidak macam - macam dengan bkotak itu, aku tidak akan mengalami peristiwa mengerikan yang akan ku ceritakan ini.

Kotak itu aku bakar, aku yakin siapa pun yang merasakan hal yang sama sepertiku dia pasti akan melakukan hal yang sama sepertiku, baik membakar benda itu atau membuangnya. Saat itu ku pikir hanya itu yang bisa lakukan, namun sepertinya tidak. 

Beberapa hari setelah kotak itu aku bakar, terjadi insiden. Temanku yang perempuan mengalami kecelakaan mobil. Mobilnya terbakar habis, ketika itu pula dia baru berhasil dikeluarkan dari mobilnya dan dibawa dirumah sakit, namun sesampainya di rumah sakit dia tidak sanggup lagi bertahan setelah sekujur tubuhnya terbakar. 

Beberapa hari kemudian temanku yang lain mengalami insiden juga, ketika dia sedang membakar sampah di halaman rumahnya, apinya menyambar tubuhnya. Temanku mengalami luka bakar parah di kedua tangannya dan disebelah kanan wajahnya.

Aku pergi untuk mengunjungi temanku di rumah sakit dan bertanya padanya apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Dia berkata padaku sebelum insiden itu terjadi dia bermimpi tengah dibakar hidup - hidup. Aku sudah tidak percaya dengan tahayul dan mitos atau sebagai macamnya namun sepertinya aku tahu penyebab dari insiden yang terjadi.

Sepulangnya aku dari rumah sakit aku segera menuju ke taman. Aku menemukan lubang kecil dimana aku membakar kotak dan benar saja, aku menemukan kotak aneh itu bertahan dari kobaran api. Aku ingat sekali, ketika aku ingin mengambil kotak itu, bulu kuduk terasa merinding. Sebuah boneka terguling keluar dari dalam kotak itu.

Jumlah keseluruhan boneka dari kotak itu ada tiga. Salah satunya sudah hangus terbakar, dan satunya lagi sudah setengah terbakar. Boneka yang terakhir masih utuh dan tidak tersentuh api. Seluruh boneka itu mengenakan kimono. Ketika aku mengambil boneka yang setengah terbakar itu, kimono boneka itu sudah menjadi arang.

Dan beberapa saat aku menatap boneka itu, bagian belakang boneka itu membuatku mengigil ngeri. Nama temanku tertulis disana. Memang kelihatannya sudah hangus terbakar dan warnanya sudah kehitaman namun aku yakin kalau nama temanku tertulis disana. Selain itu aku begitu yakin karena namaku tertulis juga di boneka satunya yang masih utuh.

"Aneh. Kerjaan siapa ini ?"

Kami bertiga tidak memiliki hubungan spesial. Kami hanya sekedar teman. Aku tidak berpikir kalau ada orang yang mengutukku dengan boneka ini. Kenapa benda ini ditinggalkan di rumah ini ? Apakah orang yang sebelumnya tinggal di sini memiliki dendam kepadaku ? Namun aku sama sekali tidak memiliki kenalan di prefektur Yamaguchi.

Semuanya benar - benar aneh.

Boneka Kutukan
Aku segera pindah rumah lagi setelah insiden itu. Aku membawa boneka itu ke kuil. 
Aku masih ingat apa yang diucapkan seseorang di kuil itu :

"Aku mencoba membersihkan boneka ini, namun boneka ini bukan boneka yang bisa dibersihkan. Kutukan ini tidak berasal dari manusia."
2

Inikah Neraka ?

Gimana yah caranya jelasin cerita satu ini ?
Jadi gini, ini cerita gak ada unsur hantu atau urban legend atau mitos sama sekali. Tapi bisa jadi ini adalah cerita paling horror yang pernah saya temui. Gak seram, tapi.... mengenaskan...

===============================================================

Kakekku seorang penjudi akut. Selama hidupnya jarang sekali dia berlaku jujur. Karenanya, pekerjaan dia sehari - hari hanyalah berkeliling mencari tempat judi dari satu tempat ke tempat lain. Terkadang dia menang, namun dia lebih sering kalah.

Keluarga kami tentu saja keluarga miskin yang bahkan untuk makan saja tidak cukup. Nenekku bekerja disawah untuk mencukupi kehidupan anak - anaknya.

Kakekku adalah seorang yang brutal dan kejam. Orang - orang mengenal dia sebagai "Si Ular". Karena dia memang tidak bisa dipercaya. Selain itu karena dia memang memiliki tato ular di punggungnya.

Berjudi adalah kehidupan kakek ku dan dia hanya punya sedikit waktu untuk keluarganya. Satu - satunya saat anaknya bisa bertemu dengan kakek hanyalah ketika kakek pulang kerumah setelah seharian berjudi. Tiap kali kakek sudah terlihat dari jalanan di dekat rumah, ayahku dan adik perempuannya pasti menyambutnya.

Bila kakek berhasil menang, dia pulang dengan pakaian yang bagus dan membawa tas besar di punggungnya. Biasanya berisi barang - barang untuk keluarganya. Ada makanan, pakaian baru dan terkadang pula mainan untuk anak - anaknya, bahkan dia selalu memperlihatkan uang yang dia dapat kepada keluarganya.

Walaupun begitu, dia lebih sering pulang dengan kehilangan seluruh uang yang dia miliki. Di satu kesempatan, dia tengah terhuyung - huyung di jalan dengan pakaian compang - camping, kelihatan seperti mayat hidup yang menyedihkan, dan baunya seperti seorang gelandangan.

Tiap kali dia pulang setelah kalah berjudi, dia selalu marah - marah sambil mabuk dan memukuli nenek di hadapan anak - anaknya. Keluarganya begitu takut padanya.

Dalam keadaan tidak sadar dia selalu mencaci maki anak dan istrinya. Berkali - kali dia selalu mencaci ayahku dan adik perempuannya berharap agar mereka tidak pernah dilahirkan. Seiring waktu berlalu, kelakuan kakek semakin keterlaluan. Ayah dan adiknya mulai sangat membencinya.

Di satu malam bersalju yang gelap, ketika hujan turun diluar, kakek  dicegat oleh segerombolan penjudi lainnya. Mereka menuduh kakek telah curang dan mengajaknya berkelahi. Kakek menghunus pisaunya dan pria yang lainnya menghunus pedang.

Itu adalah pertempuran satu lawan tiga dan walalupun kakek adalah orang yang kuat, dia tidak bisa bertahan. Dia berhasil melukai dua orang pria, namun pria yang ketiga berhasil membacok bahunya hingga terbelah sampai perut. 

Ketika kakek ku tergeletak di salju, nyawanya perlahan melenyap, mereka yang berkelahi melawannya berkata dengan penuh ketidak percayaan.
"Walau kita udah bacok dia, orang itu masih bisa tertawa." Katanya.
Mereka berdiri disana hingga kakek menghembuskan nafas terakhir, darah segarnya mengalir di antara putih nya salju.

Musim semi berikutnya nenek meninggal karena demam yang dia derita, ayah dan adiknya menjadi yatim piatu sekarang. Mereka bekerja di dua tempat yang berbeda.

Ayahku bekerja pada sebuah keluarga kaya yang tinggal di rumah mewah. Anak dari keluarga itu gila. Dia menjadi gila karena belajar terlalu keras, keluarga itu mengkerangkengnya di loteng. Pekerjaan ayahku adalah menyediakan makanan untuk bocah gila itu. 

Bocah gila itu takut dengan orang tuanya. Kalau makanan yang dia makan tidak habis, orang tuanya akan naik ke loteng dan membentaknya. Jadi, dia selalu memaksa ayahku untuk memakan sisa makanannya.

Bocah gila itu hanya memainkan makanannya hingga penuh dengan ludah dan ingus dan menyerahkan makanan itu kepada ayah. Menjijikkan memang, namun jika ayah menolak, bocah gila itu mengancam ayah dengan palu.

Satu hari bocah gila itu sakit dan memuntahkan semua makanan yang dia telan. Muntahan segar menggenang di lantai loteng. Dia takut di bentak oleh orang tuanya, maka dia menyuruh ayah untuk memakan muntahannya. Tentu saja, ayah menolak.

Bocah gila itu berang, dia meloncat ke tubuh ayah dan memukuli ayah dengan kepalan tangannya. Ayah mencoba menyelamatkan diri, namun bocah gila itu menahannya dan dia tidak bisa bergerak. Sesaat kemudian, ayah melihat palu disebelahnya. Ketika ada kesempatan, dia mengambil palu itu.

Akhirnya, ayah memukul kepala bocah gila itu dengan palu hingga tewas.

Kemudian pada akhirnya, ketika orang tua bocah gila itu datang keatas dan menemukan anaknya sudah tewas, mereka tidak menanyakan apapun kepada ayah. Kecelakaan itu ditutup - tutupi oleh mereka. Ayah mengetahui bahwa anak gila itu hanya dianggap sebagai pembuat malu keluarga kaya itu, sebenarnya mereka malah senang kalau anak gila itu tidak ada.

Setelah kejadian tersebut, ayah mengunjungi adik perempuannya yang bekerja di pabrik, namun tepat saat dia tiba disana, semuanya terlambat. Perusahaan tempat adiknya bekerja membuat adiknya bekerja terlalu keras dan mengalami pneumonia akhirnya meninggal. Tubuhnya mengalami stress dan kelelahan yang berlebihan.

Setelah kehilangan adiknya, ayah menjadi pencuri dan gelandangan. Dia mempertaruhkan semua uang yang telah dia curi di meja judi. Di punggungnya, dia memiliki tato bergambar kelelawar besar.

Tak lama kemudian, dia menyadari bahwa dia telah mengikuti jejak dari kakek ku. Dia tahu jika dia melanjutkan jalan kehidupan yang sama, dia akan mati sia - sia, sama seperti ayahnya.

Maka dari itu, dia pindah ke negara lain, mengadu nasib dan mengubah kehidupannya. Di tempat yang baru dia bekerja disebuah peternakan babi. Dia tidak digaji terlalu besar disana, namun itu adalah pekerjaan yang lebih baik, Dia bertemu dengan seorang gadis yang akhirnya dia nikahi dan memiliki seorang anak.

Ketika perang meletus, dia dipaksa untuk ikut militer di negara yang bukan tempat kelahirannya. Dia membunuh begitu banyak orang pada perang yang mengerikan itu, sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Selang beberapa pertempuran, dia berpikir bahwa semakin banyak tentara musuh yang dia bunuh, akan semakin cepat perang selesa dan dia bisa kembali bertemu dengan anak dan istrinya.

Ketika perang telah selesai, dia pulang ke rumah dan menemukan bayinya terbunuh karena serangan bom dan istrinya yang dia tidak habis pikir malah meninggalkan anaknya. Dia sudah ditakdirkan untuk meninggalkan istrinya dan meninggalkan negara itu.

Tiap kali ayah membicarakan masa kehidupannya yang itu, ayah selalu mengatakan hal yang sama...
"Dunia ini adalah neraka".
Akhirnya, perjalanan ayah membawanya kembali ke kampung halamannya. Di sana, dia bertemu dengan ibuku dan akhirnya mereka menikah. Tidak lama kemudian, mereka memiliki dua orang anak, kakakku dan aku.

Ketika aku masih kecil, aku masih ingat bagaimana ayah duduk di meja dapur, minum sendirian hingga mabuk tiap malam. Wajahnya selalu terlihat suram sekaligus menyeramkan. Dia telah mengalami saat - saat yang sangat sulit dalam hidupnya.

Ayah membenci sikapku yang dianggapnya terlalu lemah. Tiap kali dia mabuk, dia jadi beringas. Sesekali dia memukuliku hingga bagian tubuhku lebam membiru dan menghitam. Aku takut kalau sampai membunuhku.

Satu hari, ibu menyuruhku pergi ke tempat penjagalan hewan untuk membawakan makan siang ayah. Ketika aku sampai disana, aku melihat ayahku sedang membunuh seekor babi di bawah terik matahari. Dia bertelanjang dada dan memukuli babi itu hingga tewas dengan tongkat baseball. Pemandangan yang sangat mengerikan.

Babi itu menguik dan menggeram ketika mereka dibunuhi. Aku melihat ayahku yang sedang bekerja dan melihat tato kelelewar di punggungnya. Terlihat mata kelelawar itu berkilat merah di punggung ayah yang berkeringat, Wajah dan pakaian ayah berlumuran darah terlihat bagaikan sesuatu yang muncul dari dalam neraka.

Pada malam bersalju yang gelap, salju turun di luar, ayahku belum kembali dari tempat kerjanya. Ibu menyuruhku untuk mencarinya. Aku menemukan ayah mengambang di sungai. Badannya yang membengkak mengambang di air sungai yang dingin diantara sampah - sampah dan mayat binatang. Dia terlihat seperti salah satu babi gendut yang dia bunuh di tempat penjagalan.

Kakakku adalah seorang alkoholik juga. Dia duduk di meja dapur, minum sendirian  hingga mabuk, persis seperti ayah. Dia terlahir menjadi seorang yang kejam dan brutal. Tiap kali dia mabuk, dia akan mengajak seseorang yang lewat didepannya untuk berkelahi.

Dia juga memiliki tato di punggungnya. Tatonya adalah gambar naga yang besar.

Dia selalu memukuli orang - orang tanpa ampun hingga orang itu kehilangan kesadaran. Tiap orang di kota takut dengannya secara tidak langsung dia telah menemukan banyak musuh. Malam berganti, kebrutalannya membuatnya bertarung seperti seorang gila.

Di satu kesempatan, aku bersama kakakku di bar setempat ketika terjadi perkelahian. Ketika kakakku memukul seseorang yang tidak bersalah, dia mengingatkanku dengan ayah.

Satu malam bersalju, salju turun di luar, dia ditemukan dipinggir sungai, berbaring di salju. Salah satu musuh berhasil menemukannya dan dia dipukuli hingga nyaris tewas. Tulang tengkoraknya retak hingga terbuka, dia terbaring di genangan darah, sama seperti kakek kami beberapa tahun yang lalu. Nyawanya berada di ujung tanduk, darah segar mengalir di antara salju putih.

Ambulans membawanya ke rumah sakit dimana dokter melakukan operasi untuk menyelamatkan nyawanya. Mereka harus membuka tulang tengkoraknya dan melakukan operasi darurat pada otaknya.

Ketika aku pergi menjenguknya di rumah sakit, dia nyaris tidak dapat dikenali lagi. Kepalanya di perban, wajahnya robek dan ada selang yang masuk kedalam hidungnya. Dia benar - benar kacau.

Dokter bilang dia mengalami gegar otak serius. Dia tidak mungkin lagi hidup normal. Dia hanya bisa menghabiskan sisa hari - harinya di rumah sakit atau di rumah sakit jiwa.

Ketika aku duduk disebelah tempat tidurnya, aku menatapnya ketika dia sedang tidur. Aku ingat ketika kami masih kecil. Ketika ayah memukuliku, kakak selalu datang dan mencoba menyelamatkanku  yang akhirnya malah membuatnya dipukuli oleh ayah. Aku terlalu lemah. Yang hanya aku bisa melihat kakak dipukuli oleh ayah.

Kakak baik sekali padaku ketika aku masih kecil. Bahkan ketika anak - anak lain mengangguku, dia akan datang dan menolongku. Membuatnya dipukuli juga oleh anak - anak lain. Kini aku tidak habis pikir mengapa bisa dia berubah seperti ini. Apa yang membuat dia berubah menjadi monster seperti ini ? Apa yang membuat seorang anak yang baik dan perhatian menjadi seorang yang kejam dan brutal ?

Tiba - tiba, kakak ku sadar dari koma. Matanya perlahan terbuka dan dia menatap kearahku. Matanya terlihat sayu. Aku tidak tahu apakah dia masih mengenalku.

"Dimana aku ?" dia bertanya dengan lemah. "Inikah neraka ?"

Air mata mengalir di pipiku. Aku meraih tangannya dengan lembut.

Lalu kujawab "Iya,"
"Inilah neraka..."
=======================================================================

Sekarang readers, yakin readers udah mengalami penderitaan yang mendalam ?