SlideShow

2

Makhluk Anggun Bernama Kuntilanak

Dear readers.
Entah kenapa iseng - iseng saya mau membahas tentang hantu lokal. Bukan karena baru aja diganggu atau ada yang mendatangi saya terus minta diwawancara biar sejarahnya ditulis di blog ini, bukan...! (amit - amit jabang kebo) Namun karena terbesit dalam ingatan saya pada tagline sebuah iklan perabotan rumah tangga yang berbunyi
Cintailah ploduk - ploduk Endonesiah
Make sense isn't it ? Selama ini yang selalu ditulis di Fear Your Fate adalah cerita - cerita misterius atau urban legend saja. Sekali - kali lah kita menikmati produk lokal karya anak bangsa.
Trus ? Siapa eh... Apa yang mau ditulis ?
Saya mau memperkenalkan kembali sang nona anggun bergaun putih panjang nan legendaris. Namanya sudah terkenal seantero Nusantara. Tersedia dalam warna putih dan merah (terkadang kuning apabila dia bersemayam di dalam septictank) Disegani (baca : ditakuti sampai - sampai berharap biar gak bakal ketemu dengannya seumur hidup) oleh rakyat berbagai kalangan. 

There she is... 
The majestic bastard....

KUNTILANAK

Pesona pada pandangan pertama. Itulah alasan utama mengapa saya menulis tentang makhluk ini. Siapa yang gak terpesona ? Rambutnya lurus hitam digerai, mengenakan pakaian yang sopan, kulitnya putih,  selalu merawat diri dengan telaten menyisir rambut, terkadang suka tertawa malu - malu  ngegemesin, dan kabur kalau melihat cowok yang memamerkan "itu" nya karena dia sadar kalau melihat bagian "itu" yang bukan mahromnya adalah dosa. 

Bukankah mempesona ?
Cukup bercandanya. Kita serius sekarang.

Sejarah Kuntilanak

Kalau kita coba googling "Sejarah Kuntilanak" ada banyak artikel bermunculan, beda gaya tulisan (bahkan ada yang sama persis) semua isi tulisan itu pasti membahas tentang ibukota Kalimantan Barat yakni Pontianak. Seseorang menulis di Wikipedia tentang Kuntilanak 

Kuntilanak (bahasa Melayu: Pontianak atau Puntianak, atau sering disingkat kunti) adalah hantu yang dipercaya berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia atau wanita yang meninggal karena melahirkan dan anak tersebut belum sempat lahir. Nama "Puntianak" merupakan singkatan dari "Perempuan Mati Beranak". Mitos ini mirip dengan mitos hantu Langsuir yang dikenal di Asia Tenggara, terutama di Nusantara. Mitos hantu Kuntilanak sejak dahulu juga telah menjadi mitos yang umum di Malaysia setelah dibawa oleh imigran - imigran dari Nusantara.

Kota Pontianak mendapat namanya karena konon Abdurrahman Alkadri, pendiri Kesultanan Pontianak, diganggu hantu ini ketika akan menentukan tempat pendirian istana. Ada lagi cerita yang menyebutkan ketika Sultan Alkadri sedang menyusuri sungai kapuas untuk menentukan posisi kerajaan, namun beliau diganggu oleh Kuntilanak sungai Kapuas, maka dari itu Sultan Alkadri menembakkan meriam untuk mengusir Kuntilanak sekaligus menentukan posisi kerajaan tepat dimana peluru meriam itu jatuh.
Peluru meriam itu pun jatuh di persimpangan sungai Kapuas dan sungai Landak yang akhirnya diberi nama Pontianak sesuai dengan nama makhluk yang mengganggu Sultan Alkadri di sekitar sungai Kapuas.

Ulasan sejarah yang terlalu singkat untuk sebuah makhluk yang lumayan fenomenal. Namun dari beberapa artikel yang saya temukan, artikel - artikel tersebut sepakat sejarah Kuntilanak memang begitu adanya.
Saya kurang puas
Setelah melakukan penelitian lebih mendalam saya menemukan satu fakta lagi tentang awal mula diambilnya nama hantu sebagai nama kota. Masyarakat Pontianak sendiri mengakui bahwa Sultan Al Kadri memang pernah diganggu oleh Kuntilanak saat sedang melakukan ekspansi di sungai Kapuas, oleh karenanya masyarakat Muslim di daerah Pontianak memiliki kebiasaan adat yakni meledakkan meriam karbit setiap Maghrib pada bulan suci Romadhon hingga hari raya lebaran. (Sumber)

Pada awalnya saya menganggap sejarah penamaan kota Pontianak yang dihubungkan dengan Kuntilanak hanyalah dongeng belaka. Namun setelah mencari sumber artikel yang lebih mendalam ternyata masyarakat Pontianak sendiri pun mengakui akan legenda tersebut. Makhluk bernama Kuntilanak banyak bersemayam di Kota Pontianak.
1

Penampakan Hantu Tidak Pernah Seindah Ini

Bachelor Grove adalah sebuah kuburan angker yang tidak terawat sejak tahun 1965. Sekitar tahun 1991 kelompok investigasi paranormal bernama Ghost Research Society (GRS) mengambil gambar hitam putih dengan kamera infrared di beberapa lokasi yang terkenal angker di Bachelor Grove. Setelah beberapa gambar di ambil, penelitian tiap gambar pun dilakukan. Ada yang ganjil.....

Seorang wanita duduk diatas makam. Seluruh bagian tubuhnya terlihat transparan. Orang - orang setempat menyebutnya dengan "White Lady". Banyak orang sekitar yang sering melihat penampakannya langsung di sekitar makam itu seperti sedang mencari sesuatu. 

Berikut adalah gambar dari penampakan "White Lady" Yang berhasil ditangkap oleh tim GRS



Saya sudah sering melihat beberapa foto penampakan hantu baik yang terlihat sangat asli, maupun kelihatan jelas hasil manipulasi teknologi komputernya. 
Namun ketika melihat foto diatas, satu kata.... Mengaggumkan ^^. 

Foto penampakan hantu tidak pernah seanggun ini.

Tak perlulah saya repot - repot melakukan investigasi tentang foto itu. 
Asli atau tidak siapapun yang terlibat dalam foto tersebut berhasil membuat karya yang indah (Baik itu GRS ataupun White Lady itu sendiri, atau seseorang iseng yang suka edit - edit gambar).


NB : Agak merinding ketika posting yang ini. Cukup terdiam lama memperhatikan foto itu. Berharap yang lagi duduk disitu nengok ke arah saya. Hihihi...
2

Tombol Merah

Satu minggu pagi, Lauren terbangun oleh suara pintu kamar yang diketuk oleh ayahnya.

"Saatnya bangun, " kata ayahnya dengan suara riang. "Sekarang Hari Tombol Merah."

Lauren bangun, duduk sambil mengusap matanya.

"Hari Tombol Merah ?" pikinya. "Hari Tombol Merah apaan ?"

Dengan bingung, Lauren beranjak dari tempat tidurnya ke kamar mandi dan melihat pantulan wajahnya dicermin. Dia merasakan ada sesuatu yang aneh hari ini. Dia menyikat gigi dan mencuci muka.

Ketika dia turun dari tangga, ibunya di dapur, sedang mencuci piring. Ibu mengenakan pakaian terbaiknya. Ayah sedang menikmati sarapan, dengan mengenakan jas. Adik kecil Lauren menggunakan sepatu mengkilap dengan rambutnya yang disisir rapi.

Lauren duduk di meja makan.

"Ayah, aku gak salah denger ?" Lauren bertanya. "Tadi ayah bilang Hari Tombol merah ?"

"Iya, bener kok, kamu lupa ?" Jawab Ayah.

Lauren semakin bingung. Ada yang salah disini.

"Kita harus segera berangkat, jangan sampai kita telat." Kata Ayah.

"Kamu mau pakai baju itu buat Hari Tombol Merah ?" Kali ini Ibu yang bertanya.

"Aku ketinggalan sesuatu ya ? Hari Tombol Merah apa sih ?" Lauren mulai frustasi.

"Pura - pura bego deh !" Adik meledek.

"Kamu gak baca pamfletnya ?" tanya Ayah. "Pamfletnya dimana ya...?"

Ayah berdiri dari bangku untuk mencari pamflet.

"Aku sama sekali gak pernah denger Hari Tombol Merah !" Lauren mulai kesal.
Tidak ada yang menghiraukannya karena yang lain sedang sibuk bersiap - siap.

Dengan kesal, Lauren mengambil handphone dan menelpon pacarnya, Michael.

"Hai, kenapa ?" kata Michael dari sana.

"Umm.... gapapa," jawab Lauren singkat.

"Hari ini Hari Tombol Merah buat keluarga kamu kan ?"

"Hari Tombol Merah apa sih ?!"

"Kamu gak dengar pas disekolah ?" Michael terdengar kaget.

"Enggak... kayaknya waktu itu aku gak masuk..."

"Yah, susah buat dijelasin sekarang, Good Luck."

Sebelum Lauren berbicara lagi, Michael sudah menutup teleponnya. Ketika itu juga, Ibu membawakan Lauren pakaian yang bagus.

"Nih, blouse yang bagus. Pakai, Ibu mau kita berpenampilan baik di Hari Tombol Merah."

"Bu, dengarkan aku sebentar, ada yang salah disini !" Kata Lauren.

"Iya, yang salah itu kita terlambat dan kamu belum ganti pakaian."

"Bukan ! maksudku bukan itu bu...!" Lauren marah. "Aku sama sekali gak tau apa itu Hari Tombol Merah. Aku gak pernah dengar hal kayak gitu. Cuma aku doang yang gak tau apa yang terjadi disini."

Ibu menatap Lauren untuk beberapa lama. Hingga akhirnya dia berbicara dengan lembut.

"Dengarkan sayang, Ibu tahu kamu kesal. Tapi tolong, ganti baju dulu. Ini blouse kamu. Ibu tunggu di mobil, OK ?"

Setelah itu, Ibu beranjak pergi, meninggalkan Lauren dengan Blouse terbaiknya.

Selanjutnya, tahu - tahu dia sudah berada didalam mobil. Semuanya berlangsung terlalu cepat, terlalu sulit dipahami oleh Lauren. Dia merasa terjebak.

"Ada apa sih ? Apa semua orang udah gila ? Apa semua orang bekerja sama menjahili aku ?"

Mobil diparkir di halaman gedung walikota.

"Kita sampai, " kata Ayah dengan riang tidak berubah dari pagi. Mereka keluar dari mobil dan langsung berjalan menuju aula. Lauren mengikuti keluarganya, masih menduga - duga kemana mereka akan pergi.

Resepsionis duduk dibalik meja besar. Dia tersenyum ketika melihat kami tiba.

"Selamat pagi, kami disini untuk Hari Tombol Merah kami." Kata Ayah.

"Nama ?"

"Krandall. empat orang."

"Lewat pintu itu pak, ikuti saja tanda panah merah." Kata resepsionis.

Mereka berjalan mengikuti arah tanda panah menyusuri kantor - kantor di gedung itu hingga akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan besar berwarna putih yang memiliki empat buah pilar ditengahnya. Dan diatas pilar tersebut terdapat gambar tombol merah.

Diujung ruangan tersebut, sebuah meja besar yang mengkilap. Tiga perwakilan pemerintah dengan jas abu - abu duduk di belakang meja besar itu. Tidak ada suara apapun terdengar dari ruangan itu.

Lauren memperhatikan keluarganya tiap kali mereka melangkah mendekati pilar yang ada diruangan itu sambil diam - diam memperhatikan wakil pemerintahan yang duduk di balik meja besar. Lauren sudah berdiri dihadapan pilar itu sekarang. Dia baru menyadari bahwa hanya keluarganya saja yang hadir di situ. Salah satu dari perwakilan itu berbicara, suaranya menggema ke seluruh ruangan/

"Anggota keluarga Kendall..."

"Krandall... pak..." Ayah mengkoreksi.

"Oh... iya maaf," perwakilan itu melanjutkan "Anda semua telah terpilih secara terhormat untuk memperingati Hari Tombol Merah. Sang Pemimpin sangat berterima kasih kepada anda semua atas pengorbanan yang anda semua lakukan. Nama anda akan di pasang di aula sebagai penghormatan kami.

Ibu Lauren mengangguk dalam diam dan adik kecilnya terlihat sangat bangga.

Perwakilan itu melanjutkan. "Sekarang saatnya untuk menekan tombol merah anda. Semoga Tuhan selalu bersama anda...."

Ayah Lauren berbalik menghadap anak dan isterinya lantas tersenyum

"Ayah akan mulai duluan, biar Ayah kasih lihat betapa gampangnya ini."

Ayah menekan tombol merah yang ada di pilar. Lauren melihat wajah ayahnya tiba - tiba berubah menjadi merah menyala. Darah segar mengalir di pipinya dan menetes jatuh ke lantai putih. Lauren terdiam, ngeri sekaligus tidak percaya, ketika darah segar mengalir lebih banyak dari mata, telinga, hidung dan mulutnya. Wajah Ayah mulai meleleh. Dagingnya lenyap hanya tinggal tulang. Seketika, kepalanya meledak dan tubuhnya yang tidak bernyawa melebur dilantai.

Lauren menjerit. Ibu dan adiknya menekan tombol merah secara bersama - sama. Mereka pun ikut meleleh dan mengeluarkan darah segar dari mata, hidung, telinga juga mulut. Kepala mereka meledak dan kemudian semuanya hening kembali.

"Nona Krandall ?" Tanya salah satu perwakilan. "Saatnya menekan tombol merah."

Lauren tidak bisa berkata apa - apa. Dia terdiam di sana, sorot matanya penuh ketakutan, menatap tombol merah yang ada dihadapannya.

"Nona Krandall, Hari Tombol Merah adalah kewajiban," katanya dengan suara monoton. "Anda tidak punya pilihan lagi. Populasi yang berlebihan tidak bisa kami kontrol lagi. Ada populasi yang harus dilenyapkan. Keluarga anda telah terpilih, seperti keluarga yang lainnya juga.... Ini adalah sebuah kehormatan.... Negara ini membutuhkan anda.... Sang Pemimpin membutuhkan anda... Sekarang, tekan tombol merahnya...."

0

Twist Ending

Ada seorang penulis terkenal bernama David, dia memiliki banyak novel horror yang laris dipasaran. Semua kritikus literatur memuji bakatnya karena tiap karyanya memiliki plot yang mengejutkan dan tidak bisa ditebak. Dia menerima banyak sekali surat dari pengaggumnya setiap hari dan bahkan ada juga penulis - penulis yang mengirimkan naskah kepadanya berharap agar naskah tersebut bisa diterbitkan.

Namun begitu, dibalik kharismanya sebagai seorang penulis horror terkenal, diam - diam dia selalu mencuri ide dari penulis - penulis amatir. Jika dia mendapatkan naskah yang isi ceritanya memiliki ide yang hebat untuk sebuah cerita seram, dia akan menggunakan ide itu untuk novelnya sendiri. Lalu, untuk menyembunyikan perbuatannya, dia menyogok orang dari penerbitan agar yang memiliki naskah aslinya tidak dapat menerbitkan karyanya sendiri suatu saat nanti.

Suatu hari, David menerima kiriman naskah. Dibungkus dengan sampul hardcover. Dia membaca bagian pertama dan sudah bisa merasakan bagaimana cerita itu berakhir. Selanjutnya dia membaca, dia lebih yakin kalau ceritanya akan twist ending. Malam sudah larut, namun dia berniat untuk membaca naskah itu hingga selesai tidak peduli apapun.

Ketika David sampai pada bagian akhir, dia menyadari kalau ada beberapa halaman terakhir yang saling menempel. Karena penasaran, dia melepas bagian yang menempel itu. Dia sendiri sudah lelah namun dia masih membaca naskah itu. Akhirnya, sampailah dia pada akhir cerita. Benar - benar twist ending yang sudah dia perkirakan dari tengah - tengah cerita. Sang Suami mengantung dirinya setelah istrinya bunuh diri di ruangan sebelahnya. David mencantumkan tanda kutip dan berniat untuk menggunakan ide cerita itu untuk karya dia yang selanjutnya.

Tapi kemudian, dia baru menyadari, setelah kata "Selesai", masih ada tulisan tangan kecil dibawah yang ditulis oleh pemilik naskah itu. Ada pun tulisannya berbunyi seperti berikut :

"Aku sudah tahu rencanamu untuk mencuri ide dari cerita ini. Aku tahu, karena kau telah melakukan hal yang sama padaku terakhir kali aku mengirimkanmu naskahku. Kau menerbitkan karyamu dibawah namamu sendiri tanpa memberikan penghargaan sedikitpun padaku. Kau mengkhianatiku dan mem - black list ku agar para penerbit tidak menerbitkan naskah - naskahku lagi dan aku tidak akan pernah bisa menerbitkan karya - karyaku lagi. Kau telah menghancurkan hidupku dan aku akan membalas dendam. Barusan kau telah melepas lembar terakhir dari naskah ini kan ? Yah... ada racun di halaman itu, racun arsenik lebih jelasnya. Apa kau merasa kelelahan ? Itu biasa. Itu adalah efek dari racun arsenik. Tak lama lagi, jantungmu akan berdegup semakin lambat dan terus melambat hingga akhirnya berhenti untuk selamanya. Tidak perlu repot - repot menelpon ambulans. Kau akan mati sebelum mereka tiba. Kau sudah terlalu lama keracunan. 

Selamat tinggal, David.
Tidak semua twist ending bisa kau tebak.