SlideShow

2

Guru Matematika

Ketika aku masih sekolah, aku pernah memiliki seorang guru matematika yang masih muda bernama Mr. Stigson. Selain masih muda dia juga lumayan tampan, kira-kira begitulah pikir para gadis di kelasku. Dia bermata biru dan sering bercukur. Biarpun begitu, dari pertama kali dia datang ke sekolah kami, semua orang membencinya.

http://data2.whicdn.com/images/14270624/thumb.jpg
Dia memiliki sifat yang terlalu galak. Dalam perkara yang remeh, dia bisa jadi sangat marah, mengoceh, dan membentak kepada semua orang yang sedang sial lewat di depannya. Sering terdengar suara teriakan dan bentakannya di koridor atau di kelas. Terkadang dia mengancam siswa secara fisik, namun dia tidak pernah memukul siapapun. Biar begitu, seluruh kelas takut kepadanya. Bahkan para guru yang lain pun segan kepadanya dan lebih memilih menjauh darinya.

Suatu hari, seorang gadis bernama Beverly terlambat masuk kelas. Dia membuka pintu tepat ketika Mr. Stigson berada di tengah-tengah kegiatan mengajar. Dia membentaknya dan mengancamnya dengan berbagai kata-kata kasar. Mr. Stigson membentak tepat di depan wajah Beverly, mencoba mengintimidasinya. Mr. Stigson menggenggam pergelangan tangan Beverly lantas mendorongnya ke dinding.

Beverly adalah gadis yang pendiam dan selalu bersikap baik dan dia sama sekali tidak pantas menerima perlakuan seperti itu. Mr. Stigson sudah terlalu dekat dan nyaris menyentuh bagian pribadi Beverly. Beverly mencoba untuk mendorong Mr. Stigson, namun ketika tangan Beverly menyentuh Mr. Stigson, suasana semakin memburuk.

Stigson melangkah mundur lantas dia menampar Beverly. Kami semua kaget. Bahkan Beverly sendiri tidak percaya atas apa yang Stigson lakukan padanya. Beverly berdiri tercengang di sana untuk beberapa saat, kemudian dia berlari keluar ruangan, sambil tersedu dan memegang pipinya.

Stigson kembali mengajar seperti tidak terjadi apa-apa. Ruang kelas seketika senyap. Ketegangan sangat terasa saat itu. Terdengar sangat jelas suara detik jam. Tidak ada yang ingin mengambil resiko berurusan dengannya lagi. Kami semua tahu bahwa Mr.Stigson akan terkena masalah besar.

Keesokan harinya, ibu Beverly datang ke sekolah untuk berbicara dengan Mr. Stigson. Stigson keluar kelas berjalan kearah koridor dan menutup pintu di belakangnya. Seluruh kelas masih hening, kami mencoba untuk mencuri dengar dari percakapan yang terjadi di luar kelas.

Ibu Beverly mulai menjerit kepada guru matematika kami, mengutuknya dengan segala macam kutukan. ibu Beverly bilang bahwa dia akan membuat Mr. Stigson dipecat karena telah menyakiti anaknya. Ketika kami mengintip dari jendela, kami melihat Mr. Stigson hanya berdiri terdiam di depan ibu Beverly, tanpa bergerak sedikit pun.  Ada wajah cemberut di wajahnya, namun apapun yang dikatakan oleh ibu Beverly tidak membuatnya bereaksi sedikitpun.

Ketika ibu Beverly berhenti memarahi Mr. Stigson, dia langsung pergi dan Mr. Stigson kembali ke kelas. Wajahnya terlihat merah menyala dan ada amarah di matanya. Tanpa mengacuhkan kami, dia kembali duduk di bangkunya dan menekuri kertas di mejanya hingga bel pulang sekolah berbunyi.

Pagi berikutnya, ketika aku tiba di sekolah, aku mendengar berita mengejutkan.

Ketika Beverly dan ibunya mengendarai mobil untuk pulang ke rumahnya kemarin, mereka mengalami kecelakaan. Mobil yang mereka kendarai menabrak tiang telepon. Ibu Beverly meninggal karena benturan dan Beverly mengalami koma.

Aku sangat ketakutan. Beberapa teman sekelasku menangis. Yang lainnya hanya duduk di bangku masing-masing terdiam. Semuanya tidak mampu berkata apa-apa lagi.

Semuanya tampak lesu kecuali Mr. Stigson. Dia menjalani hari dengan wajah penuh seringai. Aku tidak pernah melihatnya bahagia seperti itu. Terlihat seperti dia diuntungkan oleh musibah yang terjadi pada Beverly dan ibunya. Aku sama sekali tidak mau membayangkan kenyataan itu.

Beberapa minggu berlalu dan untungnya semua kembali normal.

Satu hari, ketika kelas matematika berlangsung, sebuah telepon genggam berdering. Mr.Stigson menggila dan berlari ke sekeliling kelas, untuk menemukan telepon yang berbunyi itu. Ketika dia berhasil menemukan suara yang mengganggu itu, dia mencengkram leher seorang anak bernama Jared dan menariknya dari bangku. Dia mengorek-ngorek saku Jared hingga menemukan telepon genggam itu lantas menyitanya.

Setelah kelas berakhir, Jared berniat untuk meminta telepon genggamnya kembali, Stigson menolak untuk mengembalikan. Telepon genggam itu berada di dalam laci yang dikunci. Jared geram, sepanjang perjalanan pulang sekolah kami merencanakan sesuatu.

Keesokan harinya, ketika kelas berakhir, aku sengaja mengganggu Mr. Stigosn dengan pertanyaan bodoh tentang masalah matematika yang mudah sementara itu Jared mengendap-ngendap menuju laci meja untuk mengambil telepon genggamnya.

Kami pikir kami telah berhasil, namun sepulang sekolah, aku merasa seseorang mengikuti kami. Aku berbalik dan terkaget melihat mobil truk Mr. Stigson berjalan dengan pelan mengikuti kami. Dia duduk di bangku pengemudi, menatap kami dengan tatapan dingin mata birunya.

Sebelum aku mengatakan sesuatu kepada Jared, truk Stigson tiba-tiba berhenti di tengah jelan. Ketika aku melihat ke sebelah kanan ternyata sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju melewati perempatan. Mobil itu tidak menghiraukan lampu lalu lintas dan menuju kearah kami.

"Awas!!" aku berteriak dan menjatuhkan diri ke pinggir, namun terlambat bagi Jared.

Mobil itu menabraknya, menghempas tubuhnya ke udara. Mengerikan sekali. Aku terkulai lemas di tanah, kaget dan bingung. Ketika aku melihat sekelilingku, aku melihat Jared yang terluka dengan tubuh berdarah-darah terbaring ditengah jalan. Dia tidak bergerak sama sekali. Mobil Stigson juga sudah tidak berada disana.

Ambulans tiba di lokasi beberapa menit kemudian dan membawa Jared ke rumah sakit, namun dokter tidak bisa berbuat banyak. Beberapa jam kemudian, Jared meninggal.

Beberapa hari sebelum aku merasa cukup baik untuk kembali ke sekolah. Menyaksikan kecelakaan benar-benar membuatku trauma. Dalam kelas matematika, Stigson melirikku, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia tidak menyebutkan apapun tentang kecelakaan atau kematian Jared. Namun terlihat senyum licik di wajahnya.

Malamnya aku mendapat telepon dari Beverly, aku tidak menyangkanya. Dia masih berada di rumah sakit, memulihkan diri dari cedera yang dideritanya, dia telah berhasil bangun dari koma dan cukup baik untuk berbicara di telepon.

Dia bilang kalau dia telah mengetahui tentang kecelakaan Jared dan bertanya padaku apakah aku sedang berada di dekat Jared saat kecelakaan itu terjadi. Aku bilang aku sedang bersama Jared saat itu dan aku bilang juga bahwa Stigson berada tidak jauh dari sana juga.

"Aku tahu!" Beverly menangis. "Tepat sebelum ibuku menabrak tiang telepon, aku melihat sesuatu. Aku melihat keluar jendela dan melihat sebuah truk disebelah kami. Mr. Stigson berada di bangku pengemudi. Walaupun buram namun jelas sekali itu adalah dia. Dia hanya menatap kami saat itu...."

Intinya, Beverly bilang Stigson entah bagaimana caranya adalah penyebab kecelakaan yang terjadi. Aku tidak tahu harus apa. Semuanya terdengar gila, Namun jika Stigson berada di lokasi pada kedua kecelakaan itu, memang sepertinya dia terlibat. Namun terlalu banyak kebetulan.

Beverly berpesan padaku bahwa aku harus waspada terhadap Stigson. Dia bilang Stigson adalah orang yang berbahaya dan bisa jadi aku adalah korban berikutnya. Aku jadi makin tidak habis pikir.

Pagi berikutnya, ketika aku pulang sekolah, aku melihat sebuah truk terparkir di ujung jalan. Itu adalah truk milik Stigson. Aku tidak melihat ada pengemudi di dalamnya dan ketika aku di dekat truk itu, mesin truk itu tiba-tiba saja menyala dan meraung-raung di jalanan. Aku terlonjak kaget.

Aku jadi sering merasa gugup. Setiap malam, aku selalu melihat mobil truk milik Stigson terpakir di seberang rumahku. Terkadang, dia sengaja memperlihatkan dirinya, duduk dibangku pengemudi, menatapku dengan mata birunya yang dingin. Dia mencoba untuk mengintimidsasiku.

Setelah beberapa lama, aku benar-benar merasa ada yang salah dengan diriku. Aku kehilangan nafsu makanku. Berat badanku mulai menurun. Jika aku tertidur, mimpiku selalu dihantui oleh Stigson.

Orang tuaku pikir aku terlalu lelah karena sekolah, akhirnya, Mr. Hawthorne, guru IPA-ku, menghentikanku di koridor dan bilang kalau dia ingin bicara denganku di kantornya.

"Ada yang ingin kamu ceritakan pada saya?" dia bertanya. "Hal yang harus kamu ceritakan pada orang lain, hal mengenai.... Mr. Stigson, mungkin?"

Aku mengangguk pelan. Lalu semuanya kuceritakan kepada Mr. Hawthorne. Aku menceritakan kecurigaanku tentang keterlibatan Mr. Stigson dalam kecelakaan yang terjadi.

Ketika aku selesai bercerita, ekspresi wajah Mr. Hawthorne terlihat aneh.

Aku terduduk diam, kupikir dia akan menganggapku gila dan aku akan diusir dari kantor. Namun dia malah menepuk bahuku dan bilang kalau dia percaya padaku.

Dia bilang, beberapa tahun lalu, dia dan Mr. Stigson mengajar disebuah sekolah lain. Dia juga mencoba membongkar kecelakaan-kecelakaan aneh di sekolah, selama Mr. Stigson mengajar disana.

Tepatnya, terjadi masalah pengerusakan. Beberapa siswa merangsek masuk ruang kelas dan menyemprotkan cat semprot ke dinding. Mereka juga membongkar meja guru dan mencuri beberapa perlatan. Kelas terakhir yang dirangsek adalah ruang kelas Mr. Stigson.

Hari berikutnya, tiga siswa meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Beberapa benda yang dicuri dari meja guru ditemukan didalam bagasi mobil dan juga ada kaleng cat tergeletak di bangku penumpang. Jelas sekali merelah pelaku pengerusakan di sekolah.

Semua orang ketakutan, semuanya kecuali Stigson. Kecurigaan Mr. Hawthorne muncul ketika dia melihat betapa senangnya Mr. Stigson ketika dia mempelajari tentang kecelakaan itu.

Suatu ketika, sekolah itu harus menghentikan beberapa guru. Mr. Hawthorne dan Mr. Stigson kelihangan pekerjaannya. Hari berikutnya, kepala administrasi sekolah yang memberhentikan mereka ditabrak oleh mobil. Akhirnya dia meninggal di rumah sakit.

Mr. Hawthorne berkata ketika dia pergi meninggalkan gedung, dia melihat Stigson berdiri di depan pintu utama, memandang kepala adminstrasi. Dia menjelaskan tatapan dingin yang sering aku lihat juga dari Stigson. Sejak saat itu Mr. Hawthorne selalu mengawasi gerak-gerik Stigson.

Aku semakin heran dan tidak tahu harus berkata apa. Aku bilang pada Mr. Hawthorne kalau kami harus melakukan sesuatu. Jika Stigson bertanggung jawab pada kecelakaan-kecelakaan yang terjadi, kami harus menghentikannya. Kami harus menghubungi polisi.

Hawthorne menggeleng kepalanya, getir.

"Tidak ada bukti," dia bilang. "Stigson tidak bisa dikaitkan dengan apapun. Bahkan jika polisi mempercayai kita, tidak akan bisa menjadi sebuah kasus. Tidak ada hakim yang mampu memenjarakannya."

"Kalau begitu, tidak ada yang bisa kita lakukan," aku berkata pasrah.

"Tidak perlu khawatir," kata Mr. Hawthorne. "Biar aku yang mengurusnya."

Malam itu, ketika aku berjalan pulang sekolah aku benar-benar merasakan kalau seseorang sedang memperhatikanku. Bulu kudukku merinding. Aku melihat sekeliling dan melihat mobil truk Mr. Stigson.

`Mobil itu terparkir di seberang jalan dan Stigson tengah berdiri disebelah kanan mobil itu. Aku gemetar seketika. Wajahnya bercampur dengan amarah ketika dia menatapku, mata dinginnya kini mengandung kebencian.

Hal berikutnya yang aku tahu, aku merasa sesuatu meremas leherku. Dia sudah mencekikku. Aku tidak bisa bernafas. Aku ketakutan dan gelagapan memegangi leherku.

Semuanya terlihat gelap.

Aku akan mati.

Tiba-tiba aku mendengar suara bising. Suara gesekan memekakkan telinga, diiringi dengan suara logam yang saling bertabrakan. Rasa tercekik dileherku sirna dan aku bisa bernafas lagi.

Ketika aku menyadarkan diri, aku melihat apa yang tengah terjadi. Sebuah mobil menabrak tepat pada mobil truk. Stigson terjepit di antara dua mobil itu. Bagian tubuh atasnya terkulai pada bagian depan mobil dengan genangan darah. Dia tewas seketika. Mayatnya benar-benar hancur hingga isi perutnya terburai keluar dari mulutnya. Benar-benar mengerikan.

Pintu mobil yang menabrak terbuka dan seseorang keluar dari mobil itu dengan tergopoh-gopoh. Orang itu selamat dari kecelakaan, namun terluka parah. Dia jatuh berlutut di tengah jalan.

Aku berlari untuk menolongnya dan ketika aku melihat wajahnya, aku terdiam seketika.

Orang itu adalah Mr. Hawthorne.